Dermawan kepada saudara-saudaranya.
Ketika kehidupan kapitalis dan liberal telah merasuki jiwa kaum muslimin maka zakat, infak, dan sedekah hanya menjadi bahan pembicaraan saja, tidak lebih. Mereka menganggapnya sebagai norma saja. Andai mereka mau mengeluarkan (zakat atau infak atau sedekah) maka itu hanya bersifak seremoni. Maka tidak heran jika ketika melakukan ‘pembayaran’ (zakat, infak dan sedekah) selalu mengundang wartawan agar diliput.
Tujuannya agar nanti dirinya atau perusahaan yang dimiliki atau yang dipimpinnya semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi perusahaan mendapatkan lisensi ISO dan lain sebagainya.
Dengan begitu tentu orang yang modelnya seperti tidak ikhlas bukan?
Padahal para salafush shalih itu tidak seperti itu. Lihatlah bagaimana perkataan sahabat senior Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu. Kata beliau, “Jika engkau dapat menyimpan hartamu di tempat yang tidak dapat dijangkau pencuri, maka sedekahkanlah hartamu”.

Itu artinya bahwa beliau menganjurkan agar jangan pelit terhadap saudaranya. Yakni menimbun amal/sedekah itu jauh lebih aman dibandingkan bila hartanya ditimbun hanya sebagai harapan diri sendiri bahwa dirinya telah memiliki harta sekian dan sekian. Padahal jika pencuri tahu maka akan habislah hartanya.
Lalu bagaimana bila zaman sekarang ditaruh di bank?
Bukankah sekarang di bank juga tidak aman? Banyak hacker yang suka membobol bank? Apalagi sekarang yang lagi viral; PPAKT memblokir rekening bank yang tidak aktif.
Jadi para salaf itu cara menyimpan hartanya cukup unik.
Suatu saat Abdullah bin Ja’far diundang ketempat walimahan tetapi beliau tidak bisa hadir karena ada udzur. Maka beliau mengirim uang sebesar lima ratus dinar kepada orang yang punya hajat walihan tersebut dan meminta maaf atas ketidak hadirannya disebabkan udzur.
Tokoh salafush shalih y ang satu ini juga unik. Yakni beliau diundang walimahan tetapi karena tidak bisa hadir namun beliau tetap saja mengirimkan dananya kepada saudaranya yang sedang melakukan walimahan itu tidak sedikit, lima ratus dinar!
Maka kembali lagi, bahwa para salafush shalih itu tidak pernah menimbun hartanya demi masa depan dunia. Mereka menimbun hartanya dengan cara sedekah, infak dan zakat. Dan penyalurannya pun tidak hanya melulu di baitul maal. Terkadang mereka langsung menyalurkan kepada fakir miskin yang memang membutuhkan saat itu juga.
Maka perlu merubah oreintasi dalam masalah ‘menyimpan’ harta ini. Agar hubungan sesama saudara muslim tetap terjaga, sebagaimana para salafush shalih terdahulu. Dan mereka meyakini sepenuh hati dan dengan keimanan yang tinggi bahwa memberikan harta kepada saudaranya itu sebenarnya adalah menabung (akhirat).
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
