Akhlak Para Salaf Bag.34B

B. Mereka tidak menggap bahwa mereka paling shalih.

Seharusnya dunia medsos apabila dipahami dengan suatu kebaikan maka dia akan menjadi baik. Sebab ketika seseorang sudah mulai mau mengupload status di medsosnya maka semua orang atau orang-orang yang sudah menjadi temannya dalam dunia maya akan bisa melihat statusnya.  

Lihatlah bagaimana ada seorang yang terkenal ‘martabatnya’ jatuh hanya gara-gara dihujat para netizen. Juga adanya seseorang yang mendapat rezeki nomplok hanya gara-gara dia dibully atau ‘dinistakan’ oleh orang lain. Lalu banyak netizen yang simpati kemudian menggalang dana untuknya. 

Itulah salah satu gambaran kehidupan hari ini di dunia. Yaitu responnya yang seringnya bersifat atraktif dan sangat mudah berubah. Juga seringnya menghakimi orang lain dengan cara-cara sesukanya. Bahkan bisa dibilang tidak berfikir ke depannya. Berbeda sekali para salafush shalih, mereka selalu berfikir untuk masa depannya, akhirat! 

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Tidaklah seseorang mencapai maqam ketaqwaan hingga dia tidak memiliki perbuatan atau perkataan yang dapat mempermalukannya di dunia ini maupun di akhirat”. 

Dakwah Nabi Kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Salam

Jadi para salafush shalih itu tidak berfikir hanya unutk hari ini atau esok hari saja melainkan mereka selalu berfikir untuk hari yang pada saat itu tidak ada fungsinya lagi koneksi, pertemanan, popularitas, harta dan lain sebagainya. 

Makanya mereka benar-benar mawas diri. 

Lihatlah bagaimana seorang laki-laki yang bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz, “Kapan seorang hamba mencapai puncak ketaqwaan?” 

Beliau menjawab, “Ketika dia meletakkan semua pikiran dalam hatinya di atas piring dan memaerkannya di pasar, dia tidak akan merasa malu terhadap apa pun yang ada di dalamnya”. 

Di lain waktu, Umar bin Abdul Aziz berkata, “Tanda-tanda orang shalih adalah dia menahan ucapannya sebagaimana seorang jamaah haji yang menahan dirinya saat ihram”. 

Masih kata Umar bin Abdul Aziz, “Ketaqwaan kepada Allah bukanlah berpuasa di siang hari, tidak shalat di malam hari, dan tidak mencampur adukkan kedua. Sebaliknya, ketaqwaan kepada Allah adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah. Barangsiapa diberi kebaikan setelah itu, maka kebaikan itu lebih baik lagi baginya”. 

Terakhir, perkataan dari seorang sahabat senior Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, Abu Darda’ radliyallahu a’nhu, “Sebagian dari ketaqwaan yang sempurna adalah seorang hamba yang takut kepada Tuhannya meskipun seberat atom”. 

Jadi, mereka, para salafush shalih itu sama sekali tidak pernah mengklaim bahwa dirinya yang paling shalih tetapi mereka selalu mendefinisikan tentang orang shalih itu sesuai dengan yang Allah dan rasul-Nya kehendaki. Maka barangsiapa yang sesuai dengan Allah dan rasul-Nya berarti merekalah yang shalih. 

Wallahu a’lamu bish shawaab. 

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button