Akhlak Para Salaf Bag.29

Mereka beranggapan bahwa amal mereka masih sedikit bila dibandingkan dengan nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Terkadang ada orang yang sering terjebak dengan amalan dirinya. Sebab dia beranggapan bahwa amalan dirinya telah banyak. Apalagi jika hanya sebatas konteks hadits-hadits tertentu yang apabila tidak difahami dengan benar maka akan merugikan dirinya sendiri. Sebagai contoh tentang hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tentang shalat di tiga masjid (masjidil Haram, Masjid Nabawi dan masjidil Aqsha) maka nilainya sama dengan seribu kali dibandingkan dengan shalat di masjid-masjid lainnya. 

Hal itu sangat berbeda sekali dengan para salafush shalih. Mereka beranggapan bahwa amalnya masih sedikit, makanya mereka selalu berupaya untuk selalu menambah amalnya sebanyak mungkin.  

Sebab sang suri tauladan sendiri juga telah memberikan contoh nyatanya. Sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam selalu shalat malam hingga kedua telapak kaki dan betis beliau ebngkak. Lalu ada sahabat beliau yang bertanya, “Mengapa engkau mengerjakan yang demikian? Bukankah dosa-dosa engkau yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni?”. 

bersyukur

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: 

أَفَلَا أَكُـوْنُ عَـبْدًا شَكُوْرًا. 

“Tidakkah sudah sepatutunya aku menjadi hamba yang bersyukur”. 

Maka tidak heran bila di kemudian hari banyak para salafush shalih yang sangat giat dalam beribadah. Seakan dirinya belum pernah beribadah. Bahkan kalau perlu seandainya Allah mengizinkan mareka akan tetap beribadah meskipun sudah meninggal dunia. Sebagaimana yang disampaikan Tsabit Al Bunani, “Ya Tuhanku. Jika Engkau mengizinkan seseorang untuk shalat di dalam kuburnya, maka izinkan aku untuk melakukannya”. 

Saat Al Junaid sakit keras, murid-muridnya mendatanginya sedangkan saat itu Al Junaid sedang shalat dan dalam keadaan sekarat. Lalu para muridnya saling bertanya antara satu dengan lainnya, “Sekarang?” –maksudnya untuk ditalqin. 

Lalu Al Junaid berkata, “Sebentar lagi gulungan kitabku akan dilipat”. 

Maksudnya bila Al Junaid benar-benar meninggal maka gulungan kitab yang biasa malaikat menulis amal kebaikan dan keburukan itu akan dilipat. Itu artinya bahwa ketika murid-muridnya Al Junaid datang dan tahu bahwa gurunya sedang dalam kondisi sekarat lalu hendak mentalqinnya ternyata Al Junaid malah berketa seperti perkataannya di atas.  

Setidaknya hadits berikut ini bisa dijadikan sebagai bahan renungan. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Seandainya seorang hamba senantiasa menundukkan wajahnya sejak dia lahir hingga dia mati dalam ketaatan, tetap saja hari Kiamat itu akan menghinakannya”. Riwayat Bukhari dalam At Taariikh, Muslim dalam Musnad, Thabranin dalam Al Kabiir, dihasankan oleh As Suyuthi dan Al Albani. 

Wallahu a’lamu bish shawaab. 

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button