(A) Komitmen dalam menjaga tahajud.
Mungkin bagi sebagian besar dari kaum muslimin beranggapan bahwa shalat tahajjud hanya sekedar shalat sunnah biasa. Padahal sebenarnya terbalik. Meskipun shalat tahajjud tidak wajib tetapi efek positif dati shalat tahajud itu sangat luar biasa sekali dari segala sisi, terutama dari sisi psokologis.
Lihat saja bagaimana generasi awal didikannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sebelum hijrah. Mereka adalah benar-benar pioner dalam perjuangan Islam. Mereka sangat siap ketika disiksa oleh para musyrikin Quraisy, hingga ada yang meninggal dunia Yasir dan Sumayyah (ayah dan ibunya Amar bin Yasir) radliyallahu ‘anhum. Padahal saat itu belum ada perintah shalat, tetapi mereka setiap malam selalu bangun untuk tahajjud.
Maka tidak heran bila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
عَـليْكُـمْ بِقِـيَـامِ اللَّيْـلِ، فَإِنَّـهُ دَأَبُ الصَّالِحِيْـنَ قَبْـلَكُـمْ وَإِنَّ قِيَـامَ اللَّيْـلِ قُرْبَـةٌ إِلَى اللهِ وَمَنْـهَـاةٌ عَـنِ الْإِثْـمِ وَتَـكْفِـيْرٌ لِلسَّـيِّـئَـاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَـنِ الْجَسَدِ.
“Hendaklah kalian menghidupkan malam, karena merupakan kebiasaan orang shalih sebelum kalian, sebagai upaya mendekatkan diri kepada Rabb kalian, juga sebagai penghapus kesalahan, mencegah dari perbuatan dosa, serta guna mengusir penyakit dari badan”. Riwayat Tirmidzi dan dihasankan oleh Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil.

Ternyata tidak mengherankan bila para generasi awal Islam begitu kokoh seperti batu karang di tengah lautan. Sebab sebelum perintah shalat lima waktu diperintahkan mereka sudah melaksanakan qiyamul lail (bangun malam dan shalat) di tengah malam ketika kebanyakan manusia sedang enak-enaknya tidur.
Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu melaksanakan shalat tahajjud ketika manusia sudah pada terlelap tidur.
Itu menunjukkan bahwa shalatnya Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu tidak ingin diketahui manusia. Sebab ketika manusia tidak tahu dirinya –dan bahkan kebanyakan dari para sahabat yang pertama masuk Islam semasa di Makkah- sedang shalat maka beliau akan khusyu’. Selain itu beliau juga bisa bersimpuh menghadap Allah, mengadu tenang berbagai hal, bermunajat, berdoa, curhat dn lain sebagainya. Sehingga ketika menangis pun tidak ada yang tahu kecuali Allah dan dirinya.
Padahal bila seseorang memiliki beban mental yang berat maka jalan yang terbaik adalah curhat. Namun kebanyakan manusia sekarang curhatnya kepada manusia yang lain atau bahkan di medsos. Nah hal yang seperti ini biasanya malah bisa kesebar pada orang lain. Meskipun dirinya merasa plong ketika sudah curhat. Tetapi bagaimana jika kemudian curhatannya diketahui oleh banyak orang orang-orang itu sebenarnya tidak tahu? Bukankah malah tambah puyeng?
Namun berbeda bila curhatnya kepada Allah, pasti tidak akan mungkin curhatannya akan menyebar kepada orang lain.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
