Akhlak Para Salaf Bag.15

A. Sabar terhadap istrinya.

Memiliki istri shalihah adalah dambaan setiap muslim. dan istri shalihah sendiri selalu digambarkan sebagai wanita yang selalu menuruti syariat Allah Ta’ala. Yang selalu menjaga kemaluannya, menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dan enak dipandang mata suaminya dan sebagainya.  

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dia berkata, “Suatu saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam  pernah ditanya, “Siapakah perempuan yang paling baik?”. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: 

الَّتِى تَـسُرُّهُ إِذَ نَـظَرَ وَتُـطِيْـعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُـخَـالِـفُـهُ فِى نَـفْسِـهَـا وَمَالِـهَـا بِـمَـا يَكْـرَهُ. 

“Yaitu yang paling menyenangkanjika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”. Riwayat An Nasaa’i dan Ahmad. 

Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah memberitahu kepada Umar bin Khaththab radliyallahu a’nhu tentang istri shalihah. Sabda beliau,”Maukah aku beritahu kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang laki-laki? Yaitu istri shalihah yang apabila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila dia pergi si sitri akan menjaga dirinya”. Riwayat Abu Daud. 

istri sholehah

Namun begitu bukan berarti para wanita atau istri-istri yang terkadang ‘tidak taat’ atau belum sesuai dengan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam itu bukan berarti istri yang tidak shalihah. Tetapi mereka itulah yang oleh Allah dikirim untuk para laki-laki (baca: suami) untuk dijadikan sebagai ujian dan agar agar para laki-laki itu bisa mendidik mereka (para istrinya).  

Maka tidak salah bila Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Sungguh ketika aku bermaksiat kepada Allah, aku ketahui itu pada perangai keledaiku, pembantuku, istriku bahkan tikus yang ada di rumahku”. Terdapat pada Al Bidayah Wan Nihaayah, 10/215. 

Allahu Akbar! Inilah salah satu kejujuran dari seorang ulama salafush shalih. Beliau (Fudhail bin ‘Iyadh) mengatakan bahwa ketika terjadi ‘perubahan’ yang negatif, itu berarti disebabkan oleh dirinya yang telah melakukan suatu kemaksiatan. Termasuk istrinya yang mungkin saja saat itu berubah. Entah mungkin agak kurang taat atau yang lainnya. 

Termasuk Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu juga pernah ketika ada seorang pemuda yang rencana awal hendak melaporkan tentang istrinya yang dianggapnya kurang ‘taat’. Namun ketika sampai di depannya khalifah Umar, si pemuda itu justru melihat langsung bagaimana istri khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu sedang mengomel sedangkan khaifah hanya terdiam saja. Akhirnya si pemuda itu mengurungkan niatnya. 

Saat istri khalifah Umar selesai mengomel barulah khalifah Umar memanggil si pemuda itu dan menanyakan tentang keperluannya sehingga mendatangi khalifah. 

Kemudian si pemuda mengatakan bahwa sebenarnya rencananya ingin mengadukan perihal istrinya yang dianggapnya kurang shalihah, tetapi justru yang dilihat ternyata malah istri khalifah justru sedang mengomel sedangkan khalifah hanya diam saja. 

Akhirnya khalifah Umar mengatakan bahwa istrinya tempat menyalurkan syahwatnya, dia (istrinya) yang mengandung anaknya, yang menyusuinya, yang memasak, mencuci bajunya dan mengurusi segala keperluan rumah tangganya sehingga istri betul-betul kecapekan. Maka jika istrinya mengomel yang cukup didengarkan saja. Biar hatinya plong. Nah! 

Wallahu a’lamu bish shawaab. 

Insya Allah berlanjut ,,,. 

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button