Akhlak Para Salaf Bag.12

12. Banyak berfikir, menangis dan memikirkan perkara kematian.

Kebanyakan orang hari ini setiap mereka berfikir pasti fikirannya berkaitan dengan masa depan mereka di dunia. Entah itu berkaitan dengan terobosan dalam tehnologi, terobosan sistem bisnis dan perdagangan, terobosan dalam menggalang dana dan massa dan lain sebagainya. Yang pasti muaranya ke masalah keduniaan. 

Sementara itu para salafush shalih terdahulu setiapkali mereka berfikir pasti arah yang difikirkan mereka itu selalu ke masalah kematian. Apalagi jika ternyata memang benar-benar melihat jenazah yang diusung untuk dikebumikan, pasti mereka hatinya akan bergetar. 

Setiapkali Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu melihat orang-orang yang sedang mengusung jenazah, Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu langsung berkata, “Pergilah kepada Tuhanmu, karena kami akan mengikutimu”. 

Sementara itu Makhul Ad Dimasyqa setiapkali melihat jenazah yang sedang diusung menuju pemakaman, beliau berkata, “Pergilah, karena kita akan kembali. Khatbah yang singkat dan fasih, serta pengabaian yang mengerikan. Yang pertama pergi, dan yang terakhir tidak mengindahkannya”.  

Kenapa seakan mengusir? 

Perjalanan Kematian Bag.4

Ya, agar si mayit disegerakan; jika dia orang shalih maka biar dia segera mendapatkan nikmat kubur. Namun jika si mayit orang ahli maksiat maka agar dia disegerakan mendapatkan adzab kubur.  

Selain itu agar Abu Hurairah dan Makhul Ad Dimasyqa bisa merenung sendiri di rumahnya tentang kematian. Mereka berfikir, “Sudah sampai di manakah persiapannya untuk menghadapi kematian dirinya kelak?”. 

“Sanggupkah kelak dirinya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh malaikat munkar dan nakir?”. 

“Lalu bagaimanakah jadinya jika semua pertanyaannnya tidak bisa dijawab?” bukankah akan menjadi awal bencana? 

Dan seterusnya; hingga semua pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di benaknya.  

Berbeda lagi dengan pernyataannya Al A’masy di bawah ini. Yakni yang dimaksud adalah di saat beliau ikut mengiringi jenazah hingga ke pemakamannya, maka yang beliau pikirkan itu adalah si mayat. Yakni dia hanya memakai kain putih yang kemudian dimasukkan ke dalam liang lahat sendirian tanpa sanak saudara yang mengiringinya. Sementara amalnya dia sudah terhenti sejak diangkatnya ruh dari badannya.  

Al A’masy berkata, “Dahulu kami menghindari upacara pemakaman, tetapi kami tidak melihat seorangpun kecuali seseorang yang dibungkus kainnya dan menangis”. 

Inilah hal-hal yang selalu difikirkan oleh para salafush shalih terdahulu. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button