11. Di saat sakit, maka hati mereka seakan telah mendekati ajal.
Inilah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ini bukanlah suatu keputus asaan. Setiap jiwa yang suci kemudian saat itu dirinya mendapatkan ujian berupa sakit raganya maka dia pasti akan langsung terbayang akan kematian. Seakan ajalnya telah dekat.
Tujuannya untuk apa?
Tiada lain adalah untuk mengingat kematian itu sendiri.
Maka tidak bila di antara para salafush shalih itu ketika sedang mendapatkan ujian berupa tubuhnya sakit, mereka langsung teringat akan kematian dan akhirat. Baru langkah berikutnya adalah ikhtiar dengan cara berobat yang sesuai dengan syariat.
Hal sangat berbeda sekali dengan manusia dewasa ini, bahkan berkebalikan dengan para salafush shalih. Yakni ketika dirinya sedang mendapatkan ujian berupa sakit maka mereka segera berikhtiar dengan cara berobat, dan sangat jarang pada saat seperti itu mereka langsung mengingat kematian dan kampung akhirat. Atau bahkan ada –meski tidak banyak- orang sekarang yang ketika mendapatkan suatu ujian mereka terkadang ingin segera mengakhiri hidupnya alias bunuh diri.

Padahal jika memang sudah selesai ‘kontraknya’ pasti akan mati juga, jadi tidak usahlah bunuh diri.
Oleh karena itu alangkah baiknya bila mau merenungkan perkataan dari beberapa kasus dari para salaf berikut ini:
Hasan Basri pernah mendatangi seorang laki-laki yang sedang menjelang ajal lalu berkata, “Suatu perkara yang sudah memiliki akhir seperti ini, maka sudah sepantasnya ditinggalkan sejak awal”.
Dari sini setidaknya diketahui bahwa ketika sakit maka yang langsung mengingat kematian. Tujuannya tiada lain adalah agar dirinya segera memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Sementara itu ‘Utbah bin Ghulam (nama asli beliau: ‘Utbah bin Aban Al Basri, dijuluki Ghulam, seorang yang shalih. Beliau terbunuh pada saat perang melawan Romawi) saat menjelang ajalnya, pasukan kaum muslimin yang mendatanginya bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang?”.
Beliau menjawab dengan syair, katanya:
Saya meninggalkan dunia ini dan kebangkitan saya terjadi,
Keesokan harinya para pengusung jenazahku akan menggotongku.
Dan keluargaku akan segera menggali kuburku lalu mereka akan meninggalkanku,
Dan ketergesaanku ke sana menjadi suatu kehormatan.
Seakan-akan mereka tidak pernah mengenal wujudku,
Besok pada siang dan malam berikutnya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
