Para Salaf dalam Bercanda Bag.6

Muhammad bin Nu’man bin Abdus Salam berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih bertaqwa daripada Yahya bin Hamad. Dan menurutku dia tidak pernah tertawa”. 

Imam Adz Dzahabi menanggapi, “Sedikit tertawa dn sedikit tersenyum itu lebih utama, dan bila tanpa itu pada diri para ulama, ada dua macam: 

Pertama; lebih utama bagi orang yang meninggalkannya karena akhlak yang baik, karena takut kepada Allah dan karena kesedihan bagi dirinya. 

Kedua; Maka celakalah orang yang melakukannya karena kebodohan, kesombongan atau kepura-puraan. Sebagaimana orang yang banyak tertawa maka dia akan menganggapnya enteng. Tidka dapat dipungkiri bahwa tertawa pada masa muda lebih ringan dan lebih dapat dimaafkan daripada tertawa pada orang tua.  

Adapun senyum dan wajah berseri-seri, maka mereka lebih tinggi daripada itu semua.  

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: 

تَـبَـسُّـمُـكَ فِي وَجْـهِ أَخِيْـكَ صَدَقَـةً. 

“Senyumanmu terhadap saudaramu adalah sedekah”. Diriwayatkan Bukhari. 

senyum kepada saudara

Jarir berkata, “Aku tidak tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kecuali (bila awa berjumpa) tersenyum”. Muttafaqun ‘alaihi. 

Inilah akhlak/karakter Islam. Tingkat tertinggi adalah untuk mereka yang menangis di malam hari dan tersenyum di siang hari.  

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: 

لَـنْ تَـسَـعُوْا النَّـاسَ بِـأَمْـوَالِكُـمْ، فَـلْيَـسَـعْهُـمْ مِنْـكُـمْ بَسْـطُ الْوَجْـهِ. 

“(Bila) Dengan hartamu, kamu tidak akan bisa memuaskan orang lain, maka hendaklah mereka memuaskanmu dengan wajah yang berseri-seri”. Riwayat Al Bazzar. 

Ada satu hal yang tersisa di sini: Siapapun yang ceria dan tersenyum harus berhenti melakukannya dan menyalahkan dirinya sendiri agar orang lain tidak membencinya. Dan barangsiapa yang murung dan menarik diri dari hendaknya tersenyum, memperbaiki akhlaknya dan membencri dirinya sendiri karena akhlaknya yang buruk.  

Setiap penyimpangan dari moderasi (tengah-tangah; tidak berlebihan, tidak ekstrim) adalah tercela. Maka setiap jiwa harus berjuang untuk disiplin dan memperbaiki akhlak dan adab”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 10/140-141. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button