Ibnul Qayyim Al Jauzi rahimahhullah berkata tentang dirinya sendiri, “Saya melihat banyak orang yang sering mengunjungiku yang merupakan kebiasaan orang-orang dan mereka menyebut kunjungan yang sering itu sebagai kebaikan. Lalu mereka meminta untuk duduk. Di sana mereka terlibat dalam percakapan tentang orang-orang (ngrumpi) dan membicarakan hal-hal lain yang bukan menjadi urusan mereka. Dan inilah yang termasuk ghibah”.
“Ini adalah sesuatu yang dilakukan kebanyakan orang di zaman kita. Dan mungkin mereka mengira bahwa orang yang dikunjungi akan mencarinya, merindukannya, dan merasa kesepian dalam kesendiriannya. Terutama pada hari-hari raya dan hari libur. Kalian akan melihat merka berjalan beriringan satu sama lainnya, sementara mereka tidak membatasi diri mereka pada ucapan-ucapan yang baik setelah memberi salam. Melainkan mereka justru mencampurkannya dengan apa yang telah saya sebutkan di atas, yakni tentang membuang-buang waktu.

Jadi ketika saya melihat bahwa waktu adalah hal yang paling terhormat dan wajib untuk merebutnya dengan amal-amal kebaikan. Maka saya benci pada hal-hal seperti itu. Saya dibuat delima oleh mereka di antara dua hal; jika saya memutus (hubungan dengan) mereka, maka saya akan kehilangan mereka, sebab mereka tidak akan peduli. Dan jika saya tetap menerima mereka maka waktu saya akan terbuang sia-sia. Maka saya pun mulai mengurangi pertemuan dengan mereka semampu saya. Namun jika memang harus bertemu maka saya mempersingkat pembicaraan saya untuk mempercepat agar segera berpisah dari mereka.
Kemudian saya mempersiapkan program-program yang dapat menghalangi pembicaraan yang ngelantur pada saat pertemuan dengan mereka agar waktu tidak terbuang sia-sia. Saya memutuskan untuk mempersiapkan pertemuan dengan mereka; memotong kertas, menajamkan pena dan mengemas buku catatan. Karena hal itu sangat penting dan tidak memerlukan pemikiran dan tidak perlu berfikir keras lagi panjang. Saya sisihkan waktu untuk kunjungan kepada mereka agar waktu saya tidak terbuang sia-sia. Kami memohon kepada Robb Yang Maha Esa agar membuat kami mengetahui betapa mulianya waktu-waktu dalam kehidupan, dan agar Dia membantu kami untuk bisa memanfaatkannya”. Terdapat pada kitab Shaidul Khaathir, hal. 18-185.
Masya Allah. Bila orang sudah mengetahui tentang berharganya waktu, maka mereka akan kebingungan jika bertemu dengan saudara, kerabat atau sahabat lalu yang dibicarakan bukannya ilmu melainkan hal-hal remeh. Terlebih arahnya justru pada perbuatan ghibah.
Jangan ghibah, Ibnul Qayyim juga tidak suka bilang bertemu hanya berbicara tentang kenangan yang justru akan bisa menimbulkan perpecahan sesama kaum muslimin, ataupun bertemu dan berkumpul hanya untuk membully sesamanya saja beliau tidak mau. Termasuk juga beliau sangat malas bila bertemu dengan orang-orang yang suka pamer.
Olehnya karenanya beliau memiliki trik jitu bila hendak bertemu dengan orang-orang yang seperti di atas, yakni beliau mempersiapkan suatu pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak pikiran.
Hal itu beliau lakukan ya agar tetap menjaga hubungan sesama manusia atau yang sering disebut dengan hablun minan nas.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
