Disebutkan tentang Ibnu Nafis –beliau adalah tokohnya dalam ilmu kedokteran di zamannya-, bahwa beliau rahimahullah, ‘Apabila beliau hendak menulis suatu ilmu (maksudnya hendak menulis ilmu kedokteran) maka beliau selalu berwudhu terlebih dahulu lalu menajamkan penanya. Kemudian wajahnya dihadapkan ke dinding.
Kemudian beliau memulai menulis dengan sepenuh hatinya. Beliau benar-benar menulis dengan lancar seperti air mengalir.
Apabila beliau lelah dan penanya dirasa seperti berat (untuk dituliskan, karena sudah tidak ada lagi tintanya), beliau akan membuangnya lalu langsung mengganti dengan pena yang baru. Beliau benar-benar tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk mengecek penanya yang agak susah dipakai untuk menulis karena tintanya hampir habis.
Sementara itu pada riwayat lain disebutkan, ‘Ketika syaikh ‘Alauddin –yakni Ibnu Nafis- berjalan menuju pemandian di Baabul Huzuumah. Lalu saat di pertengahan mencuci bajunya, beliau keluar ke tempat penyimpanan baju-baju. Kemudian beliau mengambil tempat, pena dan kertas. Lalu beliau menulis artikel tentang denyut nadi sampai beliau mampu menyelesaikannya.
Setelah itu beliau kembali ke tempat pemandian dan menyelesaikan mandinya”. Terdapat pada kitab Raudhaatul Jannat, karya Khawansaari, 5/90-93.

Ibnu Nafis, adalah salah seorang ilmuwan dari kaum muslimin. Beliau –boleh dibilang- termasuk teladan bagi kaum muslimin setelahnya, termasuk hari ini. Sebab sebelum menjadi ilmuwan, Ibnu Nafis ternyata belajar ilmu-ilmu Al Qur’an terlabih dahulu dan menghafalkannya. Kemudian belajar membaca dan menulis hadits serta bahasa Arab. Hal itu berbeda sekali dengan kaum muslimin hari ini. Mereka lebih mendahulukan belajar ilmu-ilmu lain selain Al Qur’an dengan alasan bahwa dengan ilmu-ilmu itu kelak akan memudahkan dalam menggapai kehidupan dunianya.
Beliau menjadikan Al Qur’an sebagai ilmu dasar untuk dipelajari. Dan memang dengan mempelajari Al Qur’an maka seseorang (termasuk Ibnu Nafis) terbentuk karakter yang baik. Selain itu, dari Al Qur’anlah Ibnu Nafis memulai mengembangkan ilmu yang akhirnya beliau menjadi seorang ahli kesehatan di bidang paru-paru, saluran pernafasan serta interaksi antara saluran udara dengan darah dalam tubuh manusia.
Selain pengobatan, beliau juga memeriksa unsur apa saja yang menyebabkan munculnya penyakit. Selain itu beliau menjelaskan fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai pemasok darah bagi otot jantung (cardiovasculator).
Beliau menemukan ilmu peredaran darah di paru-paru dan menjadi penemuan yang sangat manerik. Hingga kemudian Ibnu Nafis dianggap berkontribusi besar bagi perkembangan ilmu kedokteran pada abad XVI.
Inilah potret seorang yang sukses yang harus menjadi inspirasi bagi kaum muda, bahwa dengan mempelajari (apalagi bila sampai menghafalkannya) maka bukan menjadi halangan untuk maju. Melainkan justru dengan Al Qur’anlah sebagai pembuka pintu ilmu pengetahuan. Dan yang terpenting lagi bahwa Ibnu Nafis bisa sukses seperti itu bukan dengan cara leha-leha melainkan beliau sangat menghargai waktu.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
