Sementara itu pada kitab yang lain, Abul Wafa’ Ali bin ‘Uqail juga berkata, “Aku mempersingkat waktuku dengan sebaik-baiknya. Sehingga aku memilih memakan kue dan menyeruputnya dengan air sebagai pengganti roti. Karena (disebabkan) perbedaan (hasil) kunyahan antara keduanya, sehingga aku dapat mempelajari atau menuliskan manfaat yang tidak aku sadari di dalamnya”. Terdapat pada kitab Dzailu Thabaqaatul Hanabalah 1/177.
Pertanyaannya; apakah hal seperti ini disebut sebagai menyiksa diri?
Jawabannya; Tidak!
Yang namanya menyiksa diri itu ya seperti tidak makan selama sekian waktu atau melakukan sesuatu (tidak makan) dengan alasan puasa mutih, misalkan. Yang semua itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Atau mengurangi waktu tidur, misalkan yang hanya sekian detik atau menit dalam sehari semalam. Yang tentunya akan semakin melemahkan kondisi tubuh.
Adapun yang pernah dijalani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang seakan hanya menyibukkan diri dan (seakan) mengurungkan diri adalah i’tikaf di masjid di bulan Ramadhan di masa sepuluh hari terakhir. Dan ternyata itupun beliau masih saja berbuka di malam harinya, meskipun beliau tidak pernah pulang kecuali bila ada urusan yang sangat mendesak.

Oleh karena itulah tentu yang dilakukan Abul Wafa’ Ali bin ‘Uqail ini tidak sampai pada taraf menyiksa diri. Sebab beliau masih makan dan minum, meskipun agak sedikit berbeda dan mungkin juga agak sedikit berkurang dari kebiasaan kebanyak manusia pada umumnya waktu itu. Namun begitu hal itu tidak berarti mengurangi ‘kadar’ asupan yang dibutuhkan tubuh.
Jadi beliau sama sekali tidak terkena teguran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Pada hadits yang didapatkan dari Anas radliyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Ada tiga orang yang mendatangi istri-istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam untuk bertanya tentang ibadah beliau shalallahu ‘alaihi wa salam. Lalu setelah mereka diberitahu (tentang ibadah beliau), mereka menganggap bahwa ibadah mereka masih sedikit sekali. Mereka berkata, ‘Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau shalallahu ‘alaihi wa salam telah diberi ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang’.
Salah seorang dari mereka mengatakan, ‘Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya’. Lalu orang yang lain menimpali, ‘Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka’. Kemudian yang lainnya lagi berkata, ‘Sedangkan saya akan menjauhi wanita. Saya tidak akan menikah selamanya’.
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mendatangi mereka seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu?”. Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku”. Hadits shahih riwayat Bukhari no. 5063.
Jadi berbeda antara menyiksa diri dengan merubah sedikit porsi makan dan minum tetapi tidak merubah kadar yang dibutuhkan tubuh. Dan itu memang benar-benar untuk menggunakan waktu sebaik mungkin demi menjalani ibadah lainnya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
