Abul Wafa’ Ali bin ‘Uqail berkata kepada dirinya sendiri, “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan bagi diriku sendiri; menyia-nyiakan satu jam pun dalam hidupku. Bahkan jika lidahku tidak mampu berdiskusi dan berdebat, dan mataku tidak mampu membaca, aku akan menggunakan pikiranku saat aku istirahat dan berbaring”.
“Aku tidak bangun sampai sesuatu muncul di pikiranku untuk ditulis. Aku mendapati hasratku untuk memperoleh ilmu, bahkan di usia delapan puluh tahunan, lebih kuat daripada saat aku berusia dua puluh tahunan”. Terdapat pada kitab Al Munadhom, Ibnul Jauzi 9/214.
Inilah para generasi salafush shalih dalam menggunakan waktu. Mereka benar-benar sangat pelit terhadap waktu. Mereka sama sekali tidak rela bila waktunya terbuang secara percuma. Maka tidka heran bila pada masa itu, negeri Islam memang benar-benar negeri yang bersinar. Baik bersinar karena akhlaknya maupun bersinar karena peradabannya.
Bayangkan! Bila seseorang telah mengharamkan dirinya membuang waktu sia-sia, maka implementasi dari firman Allah Ta’ala itu benar-benar nyata.
فَـإِذَا فَـرَغْـتَ فَـانْـصَبْ. وَإِلَى رَبِّـكَ فَـارْغَـبْ.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Qs. Alam Nashrah 7-8.

Jika seseorang mau men-zoom semua pekerjaan yang ada di sekitar dirinya maka tentu setiap orang beriman tidak akan ada yang namanya MENGANGGUR. Sebab semua yang ada di sekeliling dirinya pastilah pekerjaan. Baik pekerjaan yang menghasilkan finansial (keuangan) maupun pekerjaan yang menghasilkan amal shalih, yang hasilnya kelak di akhirat dinuainya.
Tetapi karena dis-orientasi dalam memaknai sebuah kata PEKERJAAN maka yang dilihat di sekelilingnya seakan tidak ada apa-apanya. Alias tidak ada pekerjaan bagi dirinya.
Selain itu karena cara pandangnya tentang pekerjaan itu hanya melulu pada sesuatu yang bisa menghasil keuangan (finansial) maka ya setiap sesuatu yang dikerjakannya itu seakan mengharuskan mendapatkan hasil. Padahal pada ayat ke-8 dari surat Alam Nashrah di atas disebutkan bahwa hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap itu dikatakan hanya Tuhan (Allahlah) sebagai tempat sandaran akhir dari setiap sesuatu yang dilakukan.
Itu artinya bahwa bila ada orang yang mengatakan bahwa usaha itu tidak mengkhianati hasil, maka sesungguhnya itu bukan dari faham ahlu sunnah wal jamaah. Sebab ahlu sunnah wal jamaah memandang bahwa semua usaha/amal itu hanya Allah yang menentukan. Bukankah para nabi dan rasul dahulu juga banyak yang pengikutnya sedikit? Bahkan ada yang tidak memiliki pengikut sama sekali?
Tetapi kenapa mereka tetap disebut sebagai orang yang berhasil? Sebab niat dan waktu mereka dipersembahkan hanya untuk Allah Ta’ala.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
