Raqam berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Abdurrahman –yakni Ibnu Abi Hatim- tentang seberapa sering dia mendengarkan ayahnya dan tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ayahnya?’.
Maka Ibnu Abi Hatim menjawab, “Saat dia (sedang) makan, maka aku membacakan buku untuknya. ketika dia sedang di kamar mandi, maka aku membacakan buku untuknya. Dan saat dia sedang masuk rumah untuk mencari sesuatu, maka aku membacakan buku untuknya”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 13/251.
Metode sima’i atau bisa juga disebut metode mendengar; adalah suatu metode yang bisa dibilang metode paling efektif. Sebab semua orang pun bisa menggunakan metode ini.
Bila dahulu medote sima’i dipakai oleh kebanyakan kaum muslimin, terutama bagi mereka yang tidak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi ternyata medote sima’i ini juga sering dipakai oleh justru para pencari ilmu dan yang alim sekalipun.
Ini bukan berarti mereka tidak bisa membaca dan menulis, melainkan hanya untuk mengefektifkan waktu mereka dalam beramal. Bahkan bisa merangkap amal sekaligus dalam satu masa, yakni mendengarkan ilmu yang dibacakan dari satu sisi dan bisa beramal lainnya –seperti mandi, misalkan- pada sisi yang lain. Sebab bagi mereka, mencari ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Apalagi ilmu agama.

Bukankah setiap anak bayi itu juga yang pertma kali mereka dapat pelajaran adalah dari metode sima’i (mendengar). Yakni berawal dari si bayi seringnya mendengar dari sekitar, terutama dari orang tuanya yang selalu mengucapkan sesuatu, lalu dia mencoba melafalkan suara-suara yang sering dia dengarkan. Seperti ajaran untuk mengucapkan kata; ayah, ibu, nenek, kakek, rumah, mobi dan sebagainya. Termasuk juga organ tubuhnya seperti tangan, kaki, perut, mulut, hidung, telinga dan lain-lain.
Nah, apalagi ini seorang ulama sekelas ayahnya Abu Hatim yang ingin mendidik putranya (Abu Hatim), maka beliau sangat faham betul tentang ilmu dan waktu yang harus dikorelasikan dalam kehidupan nyata.
Maka tidak heran jika ayahnya selalu menyuruhnya membacakan suatu ilmu di kala ayahnya sedang mandi atau makan atau sedang melakukan kegiatan yang lain di mana saat itu beliau tidak mungkin membacanya dalam keadaan seperti itu.
وَالْعَـصْرِ. إِنَّ الْإِنْـسَانَ لَفِى خُسْـرٍ. إِلَّا الَّـذِيْـنَ آمَنُوْا وَعَـمِـلُوا الصَّـالِحَـاتِ وَتَـوَاصَوْ بِالْـحَقَّ وَ تَـوَاصَوْا بِـالصَّـبْرِ.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat kebenaran supaya menetapi kesabaran. Qs. Al ‘Ashr 1-3.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
