Adab dalam Berbicara Bag.11

Bakar bin Munir berkata, ‘Aku mendengar Abu Abdullah Al Bukhari berkata, “Aku berharap bisa bertemu Allah dan Dia tidak menuntut pertanggungjawabanku atas ghibah yang aku lakukan kepada seseorang”. 

Imam Adz Dzahabi berkata, “Dia orang yang jujur, semoga Allah merahmatinya. Barangsiapa yang meneliti perkataannya dalam membahas masalah jarh dan ta’dil. Dia juga mengetahui kewara’annya dalam membicarakan tentang manusia. Begitu juga keadilannya terhadap orang-orang yang melemahkannya.  

Karena sesungguhnya dia sering berkata, ‘Haditsnya munkar’, ‘Para ahli hadits diam saja tentang itu’, ‘Ada masalah dengannya’, dan hal lain yang senada dengan itu.  

Imam Bukhari sangat jarang mengucapkan, ‘Si Fulan itu pendusta’, dan atau, ‘Dia suka ngarang-ngarang hadits’. Hingga beliau berkata, ‘Jika kalian mengatakan bahwa hadits si fulan itu meragukan, maka dia adalah orang yang tertuduh dan lemah’.  

Inilah makna perkataannya, ‘Allah tidak akan menuntut pertanggung jawabanku atas ghibah yang aku buat kepada seseorang’. 

Inilah puncak ketakwaan dan wara’”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 12/439-441. 

Imam Bukhari

Semua orang ahli sunnah pasti tahu siapa itu imam Bukhari. Yaitu sang maestro dalam penulisan hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Bahkan beliaulah salah satunya yang memberikan ciri-ciri tentang hadits-hadits shahih. Di antaranya ya Al Jarhu wat Ta’dil (الْجَـرحُ وَالتَّـعْدِيْـلُ) itu.  

Lalu apa itu Al Jarhu wat Ta’dil (الْجَـرحُ وَالتَّـعْدِيْـلُ ) itu? 

Al Jarhu wat Ta’dil (الْجَـرحُ وَالتَّـعْدِيْـلُ ) adalah ilmu tentang isnad (sanad)  dan mempelajari tentang riwayat hadits. Al Jarhu wat Ta’dil bukanlah ilmu yang menjelek-jelekkan dan mendeskreditkan orang lain dengan mengatakan bahwa fulan demikian dan demikian, atau memuji sebagian orang dan mencela yang lainnya. Bila ada yang seperti ini maka itu disebut ghibah dan namimah. 

Atau mudahnya, Al Jarhu wat Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat para perawi hadits dan keadilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus tentang martabat-martabat kata-kata itu. 

Definisi senada juga dikemukakan ulama lain, bahwa Al Jarhu wat Ta’dil adalah ilmu yang membahas hal ikhwal para perawi dari segi diterima atau ditolak periwayatannya.  

Maka tidak heran bila imam Bukhari berharap semoga kelak ketika dirinya bertemu Allah, Allah tidak akan meminta pertanggung jawabannya tentang para perawi yang beliau sebutkan kecacatannya itu. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button