Adab dalam Berbicara Bag.9

Dari Abu Bakar bin ‘Iyaasy, dia berkata, “Manfaat paling rendah dari sikap diam adalah keselamatan, dan keselamatan sudah cukup sebagai kesejahteraan. Dan bahaya yang paling rendah dari berbicara adalah ketenaran, sebab ketenaran sudah cukup sebagai musibah”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 8/501.  

Bila ingin mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, di antaranya ya bersikap diam bila memang diam itu sesuatu yang sangat dibutuhkan sedangkan berbicara malah justru bisa menimbulkan dosa. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri justru lebih sering diam tatala fitnah itu begitu bertubi-tubi menyerang beliau. Di antaranya beliau dituduh sebagai pemecah belah bangsa (Quraisy), pendusta (padahal sebelumnya beliau mendapat julukan Al Amin –orang yang dapat dipercaya-), orang gila dan lain sebagainya.  

Ternyata fitnah-fitnah itu tidak beliau jawab dengan ucapan kata-kata melainkan beliau jawab dengan dakwah kepada Allah Ta’ala. Artinya bahwa beliau diam, tidak mau menyangkal fitnah yang dialamatkan kepada beliau.  

Maka benarlah apa yang dikatakan Abu Bakar bin ‘Iyaash. Yakni diam itu sebuah keselamatan sedangkan berbicara itu membahayakan diri. Setidaknya ada peluang untuk menjadi ujub disebabkan dirinya bisa tenar, karena pandainya dalam berbicara.  

berkata baik atau diam

Jauh-jauh hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda, “Jauhilah sifat suka dipuji, karena dengan dipuji-puji itu seakan-akan engkau disembelih”. Riwayat Ahmad no. 16460. 

Abu Ayyub As Sinkithi berkata, “Seorang hamba sama sekali tidak jujur bila keinginannya hanya mencari ketenaran”.  

Abdullah bin Mubarak berkata, “Jadilah orang yang menyukai status khumul (status tersembunyi dan tidak dikenal banyak orang) dan membenci popularitas. Namun janganlah engkau tampakkan bahwa engkau menyukai status rendah itu sehingga menjadi tinggi hati. Sesungguhnya mengklaim diri sendiri sebagai orang zuhud itu justru akan mengeluarkan dirimu dari kezuhudan itu sendiri. Sebab dengan cara itu, engkau mencari pujian dan sanjungan untuk dirimu”.  

Oleh karena hendaknya merenungkan firman Allah berikut ini: 

قُلْ إِن تُـخْـفُوْا مَا فِى صُدُوْرِكُـمْ أَوْ تُـبْـدُوْهُ يَـعْـلَـمُـهُ اللهُ، وَيَـعْـلَـمُ مَا فِى السَّـمَـاوَاتِ وَمَا فِى الأَرْضَ، وَاللهُ عَـلَى كُـلِّ شَـيْئٍ قَـدِيْـرٌ. 

“Katakanlah; jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu melahirkan (mendhahirkannya), pasti Allah mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Qs. Ali Imran 29. 

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sudah terlanjur tenar? 

Sesungguh tenar itu sendiri bukanlah sesuatu yang dilarang. Apa lagi jika memang Allah sudah mentakdirkan dirinya menjadi orang tenar. Tetapi yang dilarang itu adalah mencari cara agar dirinya bisa menjadi tenar. Dan inilah sebenarnya yang dilarang. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button