Adab dalam Berbicara Bag.6

Fayidh bin Watsiq berkata, ‘Aku mendengar Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika engkau mampu maka janganlah  engkau menjadi perawi, atau seorang qari’ dan atau seorang pembicara.  

Jika engkau pandai berbicara, maka mereka akan berkata, ‘Betapa pandainya dia berbicara, betapa indahnya ucapannya dan betapa indahnya suaranya’. 

Engkau akan senang (ujub) dengan hal itu (pujian) dan menjadi sombong.  

Jika engkau tidak fasih dalam berbicara dan tidak memiliki suara yang indah, mereka akan berkata, ‘Dia tidak pandai berbicara dan suaranya tidak enak’. 

Itu akan membuatmu sedih dan merasa susah, maka engkau menjadi orang munafik. 

Jika engkau duduk dan berbicara, engkau tidak akan peduli siapa yang mengkritisimu dan siapa yang memujimu, maka berbicaralah”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 8/433. 

Fudhail bin Iyadh, adalah seorang ulama tabi’in. Kata-katanya sungguh menggugah jiwa. Salah satunya nasehat beliau kepada Fayidh bin Watsiq ini. 

Fudhail bin Iyadh

Memang sepintas seakan memojokkan atau bahkan menyurutkan nyali. Tetapi bila mau direnungkan maka sebenarnya ucapannya ini sungguh ikhlas dan keluar dalam dalam hati paling dalam. Sebab dalam nasehatnya itu beliau berpesan agar semua tindak tanduk setiap orang –terkhusus Fayidh bin Watsiq, yang sedang dinasehati- agar selalu diniatkan hanya untuk mencari ridha Allah Ta’ala. Bila tidak, maka bersiap-siaplah untuk kecewa. Kenapa? 

Sebab lihat saja perkataan beliau; Jika engkau tidak fasih dalam berbicara dan tidak memiliki suara yang indah, mereka akan berkata, ‘Dia tidak pandai berbicara dan suaranya tidak enak’.  

Tetapi jika ternyata publik speakingmu bagus maka engkau akan dihinggapi rasa ujub dan sombong. Padahal ujub dan sombong itulah yang kelak akan membakar amal seseorang.  

Namun jika sebaliknya lalu kebanyakan orang akan mencemoohmu. Tentu ini akan membuat hatimu sakit bukan? 

Oleh karena itu sebaiknya engkau menjadi orang yang biasa-biasa saja. Engkau cukup duduk-duduk saja dan sedikit bicara. Tentu karena engkau sekedar duduk-dudk saja alias termasuk orang yang hanya mendengar pembicaraan orang lain dan sedikit bicara, maka tidak banyak orang yang menilaimu. Bahkan mengkritisimu sekalipun. 

Bukankah sebenarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga termasuk orang yang sedikit berbicara? Maksudnya bahwa jika memang tidak yang akan dibicarakan, maka beliau sama sekali tidak mau berbicara. Sebab ditakutkan nantinya malah ngerumpi jadinya. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button