Adab Terhadap Ulama Bag.5

Rustah berkata, ‘Aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Jika seseorang bertemu dengan orang yang ilmunya lebih tinggi darinya, maka hari itu adalah hari ghanimah baginya. Jika dia bertemu dengan orang yang seperti dirinya, maka dia belajar kepadanya dan mengambil pelajaran darinya. Jika dia bertemu dengan orang yang ilmunya lebih rendah darinya, maka dia merendahkan diri dihadapannya dan mengajarinya. Orang yang meriwayatkan segala sesuatu yang didengarnya bukanlah imam ilmu, dan orang yang meriwayatkan sebagian saja, dan hafalan adalah untuk menyempurnakan”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 9/203. 

Ini adalah akhlak dari para ulama salafush shalih. Yakni mereka benar-benar bisa bergaul dengan siapa saja. Mereka juga bisa menghargai ilmu. Betapa tidak? 

Bila bertemu dengan seseorang yang lebih tinggi ilmunya alias senior maka dianggapnya ghanimah (rampasan perang). Maksudnya; orang tersebut bisa ditimba ilmunya. Jadi tidak perlu lagi jauh-jauh datang ke kediamannya melainkan –mungkin karena ada hajat yang mendesak hingga orang yang ilmunya lebih tinggi itu- datang ke tempatnya.  

Maka bagi orang yang berilmu, dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut. Dia pastiakan menempel terus untuk menangguk ilmunya. 

Sofyan Ats Tsauri

Tetapi bila dirinya bertemu dengan orang yang ilmunya sama dengan dirinya maka orang tersebut akan dijadikan sebagai partnernya dalam berbagi ilmu atau mengasah ilmunya. Atau justru mengambil pengalaman-pengalaman yang didapatkannya di lapangan dakwah. Sebab siapa tahu bahwa medan dakwahnya berbeda dengan medan dakwah dirinya.  

Namun bila dirinya bertemu dengan orang yang ilmunya dibawahnya bukan berarti harus dibully melainkan justru dibimbingnya. Agar ilmunya bisa bermanfaat bagi umat, ilmunya semakin bertambah dan dirinya bisa semakin tunduk dan taat kepada Allah karena ilmunya. 

Hal itu bisa terlihat dari bagaimana dahulu seorang imam Syafi’i yang ingin berguru kepada imam Malik dan Waqi’, yang ternyata keduanya benar-benar membimbing imam Syafi’i menjadi ulama besar pada masanya.  

Jadi imam Malik dan Waqi’ tidak menganggap imam Syafi’i sebagai anak muda yang kelak bakal saingannya dan akan menggeser kemasyhurannya. Tidak sama sekali.  

Keduanya justru membimbingnya hingga imam Syafi’i benar-benar faham akan ilmu-ilmu agama. Sealin itu imam Syafi’i pun dengan telatennya membimbing umat ini dengan bersungguh-sungguh. Sehingga sama sekali umat tidak ada yang merasa tersinggung dengan ucapan ataupun tindakan beliau. Sehingga beliau sadar keilmuannya umat berada di bawah, maka mereka harus dibimbing. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang dengan penuh cinta kasih beliau membimbing umat ini. 

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Qs. At Taubah 128. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button