Dari Umar bin Mudrak, kami mendapatkan berita dari Qasim bin Abdurrahman, kami mendapatkan berita dari Asy’ats bin Syu’bah Al Mashishii, dia berkata, ‘Ketika Harun Ar Rasyid tiba di Raqqah, orang-orang justru sibuk berlarian di belakang Abdullah bin Mubarak hingga sandal-sandal banyak pada putus dan debu beterbangan. Saat itu ibu dari putra amirul mukminin melihat keluar dari sebuah menara istana kayu, dan melihat orang-orang berlarian di belakangnya Abdullah bin Mubarak.
Ibu dari putra amirul mukminin bertanya, “Ada apa ini?”.
Orang-orang menjawab, “Seorang ulama dari Khurasan datang ke Raqqah”.
Ibu itu berkata, “Demi Allah! Dia adalah raja, bukan Harun (Ar Rasyid) yang tidak mampu mengumpulkan manusia kecuali dia memberikan syarat dan melalui proses protokoler”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 8/384.
Sungguh ini sangat kontras sekali dengan kehidupan hari ini. Bila pada kehidupan dahulu ulama sangat dihormati dan disegani, sehingga ketika dalam waktu bersamaan ada kunjungan ulama dan pemerintah (penguasa) maka para rakyat pasti lebih dahulu mengutamakan dan menghormati ulama dibandingkan para umara (penguasa/pemimpin/presiden).

Rakyat saat itu faham bahwa penguasa hanya memberikan keduniaan sementara ulama memberikan ilmu. Dunia bisa saja habis dan hilang. Yakni habis dan hilang bilang dibelanjakan atau diberikan kepada orang lain. Tetapi bila ilmu maka tidak akan pernah habis atau hilang bila diberikan kepada orang lain. Bahkan bisa jadi ilmu itu malah berkembang dengan sendirinya.
Dunia/harta maka si pemilik harus ekstra dalam menjaganya agar tidak dicuri atau dirampas orang lain sedangkan ilmu maka ilmulah yang akan menjaganya. Ini sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu.
Maka tidak jauh berbeda dengan para pemiliknya itu sendiri, baik pemilik dunia/harta maupun pemilik ilmu (ulama) itu sendiri. Mereka memiliki sikap yang berbeda terhadap manusia.
Yang satu (penguasa) melalui pendekatan persuasif sedangkan ulama mendekatinya dengan cara dialogis.
Selain perbedaan di atas ternyata masih ada perbedaan yang sangat mencolok di antara para penguasa dengan para ulama. Bila para penguasa lebih sering mementingkan diri sendiri dibandingkan dengan para ulama. Mereka jauh lebih mementingkan nasip umatnya.
لَـقَدْ جَـآءَ كُـمْ رَسُوْلٌ مِّنْ أَنْـفُـسِكُـمْ عَـزِيْـزٌ عَـلَيْـهِ مَأ عَـنِـتُّـمْ حَـرِيْـصٌ عَـلَيْـكُـم بِالْـمُؤْمِـنِيْـنَ رَءُوْفٌ رَّحِيـْمٌ.
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Qs. At Taubah 128.
Maka tidak heran jika ibu dari putra amirul mukminin itu berkata, “Dia adalah raja! bukan Harun Ar Rasyid”.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
