Dari Maimun bin Mihran, dia berkata, ‘Aku mendengar Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak pernah mendengar keburukan seseorang dari saudaraku kecuali aku menempatkannya pada salah satu dari tiga posisi;
1. Jika dia di atasku, aku akan mengakui kelebihannya.
2. Jika dia sederajat denganku, aku akan berlaku baik dengannya, dan
3. Jika dia berada di bawahku, aku tidak akan memperdulikannya.
Inilah cara pandangku. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka bumi Allah itu luas”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 1/754.
Seandainya kaum muslimin generasi sekarang ini selalu memposisikan dirinya sama dengan Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhu, tentu di tengah masyarakat akan adem.
Namun kebanyakan yang terjadi justru sebaliknya. Mereka sangat senang ngerumpi. Lalu ketika melihat ada sesuatu yang bisa digoreng maka mereka akan menggorengnya hingga gosong. Padahal hal itu sangat dibenci Allah Ta’ala;

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah satu di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Qs. Al Hujuraat 12.
Selain itu, perkataan Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhu ini termasuk mengajarkan umat kepada adab dan akhlak. Betapa tidak?
Beliau sadar bahwa setiap manusia pasti memiliki kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Makanya beliau ketika mendengar berita buruk tentang saudara muslimnya, beliau menanggapinya dengan salah satu posisi seperti yang telah disebutkan di atas.
1. Bila orangnya si atas dirinya maka beliau mengambil sikap husnudzan terhadapnya. Sebab dianggapnya sebagai gurunya. Bukankah sikap yang baik bagi seorang murid terhadap gurunya adalah menghormatinya?
2. Bila sederajat maka akan memberlakukannya sebagai teman. Padahal salah satu syarat agar pertemanannya tetap langgeng adalah selalu menutupi kelemahan atau kesalahan-kesalahannya yang kecil bukan? Bahkan kalau perlu memaafkannya.
3. Bila di bawahnya maka beliau tidak akan mempedulikannya. Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengatakan bahwa bukan dari golongan beliau bagi siapa saja yang tidak menyayangi yang kecil?
Jadi dengan demikian maka jalan yang terbaik adalah saling melakukan tawashau bil haqqi wa tawaashau bish shabri, saling nasehat menasehati pada kebenaran (Al Haq) dan saling nasehat menasehati dengan kesabaran.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
