Dari Suhnun, dia berkata, “Aku makan dengan kemiskinan, namun aku tidak makan dengan ilmu. Pecinta dunia itu buta dan belum mendapatkan pencerahan ilmu. Betapa jeleknya seorang ulama yang mendatangi penguasa, dan demi Allah, aku tidak pernah menemui penguasa kecuali aku akan keluar (dan) aku akan bermuhasabah terhadap diriku. Lalu aku dapati sang penguasa itu telah dikelilingi para pengawal. Dan kalian pasti akan melihat perlawananku terhadap hawa nafsuku serta aku tidak akan mungkin bertemu dengannya kecuali akan muncul kekasaran. Demi Allah! Aku tidak akan mungkin mengambil sesuatupun (dari penguasa) dan tidak akan mungkin memakai pakaian (pemberian) dari mereka”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 12/65.
Suhnun, adalah seorang ahli hukum dari madzhab Maliki, 160 H – 240 H. Meskipun seorang ahli hukum, ada pelajaran dari beliau. Setidaknya sebagaimana yang beliau sampaikan di atas.
Bisa dibayangkan bukan? Bila hari ini, di sini, seorang ahli hukum, tentu bermandikan uang dan dunia. Tetapi sangat berbeda dengan Suhnun. Beliau justru makan dengan apa adanya dan serba kekurangan. Beliau tidak mau menggunakan ilmunya untuk menipu manusia, lalu dengan hasil menipunya itu beliau bisa makan sesuai seleranya. Bukan! Bukan itu yang beliau lakukan.

Beliau benar-benar orang yang bertanggung jawab. Beliau orang yang tidak bisa disuap dengan apapun; harta, tahta dan wanita!
Beliau memilih hidup pas-pasan namun tidak menjual ilmunya demi keuntungan dunia.
Inilah ulama sejati:
إِنَّـمَـا يَـخْشَـى اللهَ مِنْ عِـبَـادِهِ الْعُـلَـمَـاءُ، إِنَّ اللهَ عَـزِيْـزٌ غَـفُوْرٌ.
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamab-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Qs. Faathir 28.
Inilah ulama sejati. Ulama yang tidak makan dari hasil mengajarkan ilmunya kepada umat.
Andaipun beliau ditanya tentang berbagai hukum, beliau jawab secara ilmu dan waqi’i (kekinian) namun beliau menolak menerima upah dari hasil beliau menjawab dari pertanyaan orang yang bertanya tersebut.
Maka ketika beliau mengkritisi ulama yang mendatangi penguasa. Sebab bagi beliau, ulama yang mendatangi penguasa itu tentu dia akan ‘tersekat’ ketika hendak menyampaikan ilmunya. Sebab dia telah menerima angpau dari penguasa. Dan itu sudah beliau praktikkan langsung teradap dirinya. Yakni beliau tidak mau mendatangi ulama.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
