Dari Fudhail bin ‘Iyadh, dia berkata, Suatu saat Abdullah bin Mubarak ditanya, “Siapakah yang dimaksud dengan manusia?”.
Abdullah bin Mubarak menjawab, “Ulama”.
Lalu ditanya lagi, “Lalu siapa para penguasa itu?”.
Abdullah bin Mubarak kembali menjawab, “Orang-orang yang zuhud”.
Abdullah bin Mubarak kembali ditanya lagi, “Siapakah orang-orang yang bodoh?”.
“Orang-orang yang memakan agamanya”, jawab Abdullah bin Mubarak. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 4/140.
Sebuah pesan yang sangat mendalam dari seorang Abdullah bin Mubarak. Yang itu pesan bagi orang-orang yang masih menganggap dunia itu sebagai tujuan hidupnya. Makanya jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya seakan tidak semestinya. Padahal itulah realita yang sebenarnya.

Yakni ketika (1); ditanya, “Siapakah yang dimaksud dengan manusia?”. Lalu dijawab, “Ulama”.
Karen memang kebanyakan manusia itu lebih sering memandang hanya dari sisi ukuran duniawinya saja. Sedangkan ulama mereka cara berfikirnya menerawang jauh; akhirat.
Nah bila yang dipandang hanya duniawinya saja maka mereka pasti akan melihat dunia dari sisi untung rugi dari sisi keduniaannya. Hal itu berbeda dengan ulama. Mereka selalu berfikirnya akhirat. Jadi jika sesuatu itu menguntungkan akhiratnya maka dikejar, namun jika tidak menguntungkan akhiratnya maka mereka tinggalkan.
(2). Saat ditanya, “Siapakah penguasa itu?”. Lalu dijawab, “Orang-orang yang zuhud”.
Padahal kebanyakan orang hari sangat menginginkan menjadi penguasa atau setidaknya dekat dengan penguasa. Tetapi di sini Abdullah bin Mubarak justru mengatakan bahwa penguasa yang sebenarnya adalah orang yang zuhud. Kenapa?
Sebab orang yang zuhud itu mampu menguasai hawa nafsunya. Ya, jika hawa nafsunya bisa dikuasai (dikendalikan) maka dia akan aman hingga akhirat. Tetapi jika seseorang tidak sanggup mengendalikan hawa nafsunya (baik nafsu syahwat maupun nafsu serakah) maka dia akan mendapatkan kemalangan kelak di hari Akhir. Lihatlah bagimana seseorang yang menyesal ketika dia telah melampiaskan nafsunya. Begitu juga dengan penguasa negeri, ketika dia telah melampiaskan nafsunya maka yang terjadi justru kerusakan terjadi di mana-mana.
Saat ditanya, “Siapakah orang-orang yang bodoh?”
Beliau jawab, “Orang yang memakan agamanya”.
Ini juga sesuatu yang sangat tragis. Bagaimana mungkin seseorang rela menjual agamanya demi dunia? Bukankah dia kelak akan hidup di negeri akhirat tanpa batas akhir?
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
