Salaf dan Fitnah Kekuasaan/Penguasa Bag.6

Ibnu Syaudzab berkata, ‘Suatu hari, amir (penguasa) Bashrah membagi-bagikan (hadiah) kepada para qari’. Kemudian amir mengutus seseorang agar memanggil Malik bin Dinar, sebab beliau juga termasuk orang yang berhak menerima pembagian hadiah dari amir Bashrah.

Lalu Muhammad bin Wasi’ bertanya kepada Malik bin Dinar, “(Wahai Malik), apakah engkau sudah menerima hadiah dari amir?”.

Malik bin Dinar menjawab, “Tanyakan kepada teman-temanku”.

Teman-teman Malik bin Dinar berkata, “Wahai Abu Bakar! Belilah budak dengan itu lalu bebaskanlah mereka”.

Muhammad bin Wasi’ berkata, “Aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah engkau sanggup membalikkan waktu yang telah berlalu?”.

Malik bin Dinar menjawab, “Ya Allah, tidak bisa. Sesungguhnya hartamu hanyalah keledaimu (saja). Dan sesungguhnya Malik bin Dinar selalu menyembah Allah, sama seperti Muhammad bin Wasi’”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 6/120.

Riwayat di atas menceritakan tentang Malik bin Dinar dengan penguasa (Irak). Siapakah sebenarnya Malik bin Dinar itu?

malik bin dinar

Malik bin Dinar, adalah salah satu ulama tabi’in. Beliau sangat zuhud, hingga tidak memiliki dunia (kekayaan) kecuali hanya keledai saja. Maka tatkala ada kabar bahwa Malik bin Dinar mendapatkan hadiah dari gubernur, maka spontan banyak orang yang heboh lagi tidak percaya. 

Salah satunya adalah muridnya sendiri yang sangat dekat dengan beliau sangat terpercaya. 

Itu artinya apa?

Meskipun seorang Malik bin Dinar yang sama sekali tidak mendapatkan hadiah dari amir tetapi karena namanya beliau dicari-cari untuk mendapatkan hadiah (meskipun beliau tidak mau dan bahkan menolaknya) maka tetap saja hal ini bisa menggelinding seperti bola salju.

Apalagi jika beliau mau menerima hadiah tersebut. Tentu fitnah akan lebih dahsyat bukan?

Maka benarlah apa yang sering didengar oleh kebanyakan manusia bahwa seburuk-buruk pemimpin adalah orang yang jauh dari ulama, dan sejelek-jelek ulama adalah mereka yang selalu mendekat dengan penguasa.

Jadi sebenarnya ulama itu tugasnya adalah penyeimbang agar negara memiliki kontrol. Sedangkan ulama yang model seperti ini mereka sama sekali tidak memiliki hasrat terhadap dunia.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button