Banyak orang yang beranggapan bahwa setiap ulama pasti jauh –atau- bahkan menjauhi penguasa. Sehingga ulama itu selalu diidentikkan bermusuhan dengan penguasa. Padahal sebenarnya tidak seperti persangkaannya kebanyakan orang, sebaliknya justru ulama itu selalu memberikan nasehat kepada para penguasa Islam. Hanya saja caranya memang berbeda-beda; ada yang keras (entah mengkritisi) maupun yang lembut.
Salah satu contohnya adalah ulama tabi’in dari Yaman, Dzakwan bin Kaisan,yang mendapat julukan Thawus (burung merak). Sebab beliau laksana thawus bagi para fuqaha dan pemuka pada masanya.
Sementara itu gubernur yang berkuasa di sana saat itu adalah Muhammad bin Yusuf Ats Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf.
Suatu hari, Thawus dan Wahab bin Munabbih mendatangi Muhammad bin Yusuf (gubernur Yaman). Setelah duduk di hadapannya Muhammad bin Yusuf, Thawus memberikan nasehat panjang lebar berupa anjuran dan ancaman. Sementara banyak orang yang duduk-duduk di depan gubernur.

Ternyata dari nasehatnya itu gubernur sangat tersinggung. Maka gubernur menyuruh pembantunya agar mengambilkan seperangkat pakaian warna hijau lalu diletakkan di bahu Thawus. Dan pembantu itu segera melaksanakan perintah sang gubernur.
Namun Thawus menggoyangkan bahunya hingga seperangkat pakaian hijau itu terjatuh. Setelah itu Thawus beridir dan beranjak pergi dari hadapan gubernur.
Rupanya Muhammad bin Yusuf tersinggung dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Sementara itu di luar, Thawus dan Wahab bin Munabbih berbincang-bincang tentang pemberian pakaian hijau yang ditolak Thawus. Lalu Wahab bin Munabbih berkata, “Demi Allah. Sebenarnya kita tidak perlu membuat gubernur marah kepada kita. Apa salahnya bila engkau menerima pakaian itu lalu engkau jual dan hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin?”.
Thawus menjawab, “Apa yang engkau katakan memang benar jika aku tidak mengkhawatirkan para ulama setelah kita berkata, ‘Kami akan mengambil seperti Thawus’. Akan tetapi mereka tidak melakukan apa yang engkau ucapkan (yakni menjual dan menyedekahkan kepada fakir dan miskin)”.
Sebagaimana terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 5/40 dikisahkan bahwa seakan Muhammad bin Yusuf ingin membalas perlakuan Thawus kepada dirinya.
Maka Muhammad bin Yusuf menyiapkan pundi-pundi berisi 700 dinar emas, lalu dia memerintahkan anak buahnya agar menyerahkan kepada Thawus dan diupayakan agar Thawus mau menerimanya. Dan Muhammad bin Yusuf sendiri berjanji akan memberi hadiah kepada anak buahnya bila misinya berhasil.
Dan ketika bertemu Thawus, anak buahnya tidak berhasil memberikan pundi-pundi itu kepada Thawus. Alasannya bahwa Thawus tidak membutuhkannya. Tetapi secar diam-diam anak buahnya meletakkan pundi-pundinya itu di salah satu sudut rumah Thawus. dan setelah berhasil meletakkan pundi-pundinya itu, sang anak buah langsung kembali kepada Muhammad bin Yusuf lalu melaporkannya dengan mengatakan bahwa misi telah berhasil.
Keesokan harinya Muhammad bin Yusuf mengutus utusan lain dengan mengajak utusan yang pertama untuk mendatangi Thawus dan meminta pundi-pundi (katanya telah diterima –versi anak buahnya-). Namun Thawus menolak dengan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak menerima apapun dari gubernur.
Dan akhirnya anak buah yang pertama mengakui bahwa dirinya telah meletakkan pundi-pundti itu di sudut rumahnya Thawus.
Jadi begitulah hubungan para salaf dengan penguasa.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
