Abu Hisyam Ar Rifa’i bercerita, Abu Bakar bin ‘Iyasy bertanya kepada Hasan bin Hasan saat di Madinah, “Apa yang membuat dirimu seraca terus menerus terkena fitnah?”.
Hasan bin Hasan balik bertanya, “Fitnah apa yang telah lihat pada diriku?”.
Abu Bakar bin ‘Iyasy menjawab, “Aku melihat mereka (murid-murid. Pen) mencium tanganmu (saat bersalaman) sementara engkau tidak melarang (mencegah)nya”. terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 8/500.
Mungkin kebanyakan orang hari ini ketika melihat ada orang lain (terutama para binaan atau pengagumnya) mencium tangan orang yang dikagumi itu ada sesuatu hal yang wajar. Namun ternyata saat itu di mata orang-orang salafush shalih dianggap sesuatu yang aneh atau bahkan mengarah pada sesuatu yang menuju kepada kemungkaran.
Lho kok bisa?

Ingatlah bahwa Islam seringnya lebih menunjukkan pada kehati-hatian dan pencegahan daripada nanti ada kejadian baru kemudian membuat reaksi yang berlebihan. Salah satu contohnya ya seperti riwayat di atas.
Selain itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri pernah bersabda:
لَا تُـطْرُوْنِـى كَـمَـا أَطْرَتِ النَّـصَارَى ابْنَ مَرْيَـمَ، إِنَّـمَـا أَنَا عَـبْدٌ، فَـقُـوْلُوْا: عَـبْدُ اللهِ وَرَسُوْلِـهِ.
“Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji (Nabi Isa) Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, maka katakanlah, “Hamba Allah dan rasul-Nya”. diriwayatkan Bukhari no. 3445.
Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. Qs. Al A’raaf 188.
Bayangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam saja sudah diperintahkan untuk memberitahu kepada umatnya agar tidak berlebih-lebihan dalam memandang dirinya. Maknanya bahwa beliau pada dasarnya sama saja dengan manusia lainnya. Hanya saja yang membedakan bahwa beliau mendapatkan wahyu sementara manusia lainnya tidak. Jadi tidak lebih dari itu.
Jadi tugas beliau hanyalah memberi kabar gembira bagi mereka yang beriman dan memberi peringatan bagi yang menolak dakwah beliau.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
