Ahnaf bin Qais adalah salah satu ulama pada zaman tabi’in. Beliau benar-benar bisa membedakan mana persoalan aqidah mana mana persoalan khilafiyah. Dengan begitu akan menyejukkan hati bagi kaum muslimin secara keseluruhan.
Ya, setidaknya ada dua kasus yang pernah beliau alami; masalah perang Siffin dan cara ibadah beliau yang saat itu sudah renta.
Pertama, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat bahwa ada waktu-waktu tertentu khalifah Mu’awiyah melakukan pembicaraan terbuka (kalau di Indonesia seperti open house). Dan biasanya yang pertama diterima sebagai tamu adalah para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Baru antrian berikutnya adalah dari generasi tabi’in.
Nah ketika pada sesi generasi tabi’in ini suasana seperti agak tegang dan terasa menggetarkan. Dan ternyata khalifah Mu’awiyah sedang menerima Ahnaf bin Qais. Lalu mereka sedikit berdebat mengenai perang Siffin, yang ternyata saat itu antara keduanya berada di kubu yang berseberangan. Yakni Ahnaf bin Qais berada di pihak Ali bin Abi Thalib radliyallahu a’nhu.
Meski keduanya juga telah melupakan peristiwa itu dan saling memaafkan namun adiknya khalifah, Ummu Hakam merasa tergelitik untuk mengetahuinya, siapakah gerangan yang berani mendebat khalifah.

Setelah Ahnaf bin Qais pergi, lalu Ummu Hakam menanyakan tentang tamunya kepada sang kakak, khalifah Mu’awiyah. Lalu dijawab khalifah dengan jawaban yang membuat adiknya, Ummu Hakam terkagum-kagum.
“Siapakah orang itu, wahai Amirul Mukminin?”, tanya Ummu Hakam.
Khalifah Mu’awiyah menjawab, “Begitulah, jika dia marah niscaya seratus ribu penduduk Bani Tamim akan ikut marah tanpa tahu sebabnya. Dia adalah Ahnaf bin Qais, pemuka Bani Tamim dan pahlawan bangsa Arab”.
Kedua, kaitannya dengan ibadah, sebagaimana riwayat di bawah ini:
Suatu saat ada orang yang berani menegur Ahnaf bin Qais, katanya, “Sesungguhnya engkau sudah tua. Tentu puasa itu akan membuat dirimu semakin lemah”.
Ahnaf bin Qais menjawab, “Sesungguhnya saya sedang mempersiapkan perjalanan yang sangat panjang (dan jauh)”.
Pada riwayat lain disebutkan, ‘Ahnaf bin Qais selalu menghabiskan malam-malamnya dengan shalat (malam/tahajud, pen). Lalau dalam doanya beliau meletakkan jari-jarinya di dekat lampu’.
Kemudian beliau berkata, “Dia merasakan”.
Lalu beliau menambhkannya lagi, “Apa yang membuatmu, wahai Ahnaf, melakukan ini dan itu pada hari begini dan begini?”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 4/91-92.
Ternyata para salafush shalih itu benar-benar memberi toleransi yang laur biasa kaitannya dengan ikhtilaf yang furu’ dan selama tidak membuat pelakunya bisa keluar dari Islam.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
