Salaf dan Al Qur’an Bag.2

Dari Musayyab bin Rafi’, dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, dia berkata:

“Selayaknya bagi para penghafal Al Qur’an dikenali dengan (shalat) malamnya ketika orang lain sedang tidur. Dengan (puasanya) di siang hari ketika yang lain sedang berbuka, dengan sikap sedihnya ketika orang lain bergembira, dengan tangisnya ketika orang lain tertawa. Dengan sikap diamnya ketika orang lain berbicara dan dengan khusyu’nya ketika orang lain sedang membanggakan diri. Dan selayaknya bagi para penghafal Al Qur’an untuk selalu menangis dengan kesedihan (namun diiringi rasa) murah hati, bijaksana dan tenang. 

Dan tidak selayaknya bagi para penghafal Al Qur’an menjadi orang yang penakut, lalai, banyak bicara, suka berteriak-teriak dan tajam mulutnya”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 1/413.

Inilah adab-adab yang seharusnya dimiliki dan dilazimi sebagai seorang penghafal Al Qur’an. Sebab begitulah para huffaadz (penghafal Al Qur’an) dahulu pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan pada masa Tabi’in. 

Mereka adalah orang-orang ‘istimewa’ dalam perilaku kesehariannya. Mereka ingin benar-benar seperti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam; Al Qur’an berjalan!

penghafal al quran

وَإِنَّـكَ لَـعَـلِى خُـلُقٍ عَـظِيْـمٍ.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Qs. Al Qalam 4.

Setidaknya bisa dilihat pada empat sosok khalifah; Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhum ajma’in. 

Ya, keempat khalifah itu semuanya hafal Al Qur’an. Tetapi mereka adalah type manusia yang berbeda daripada manusia lainnya. Mereka selalu memikirkan orang lain ketika masing-masing dari manusia itu memikirkan diri sendiri. Sehingga seorang seperti Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu hanya mampu membeli tali pengikat unta, selama menjabat menjadi khalifah.

Sedangkan Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu ketika menjelang udzur beliau memilih enam orang menjadi timsus. Dari mereka agar memilih satu dari mereka sendiri untuk menjadi khalifah sebagai penggantinya. Dalam pesannya kepada keenam sahabat yang terpilih itumengatakan bahwa cukup Umar bin Khaththab sajalah yang menjadi khalifah. Beliau tidak mau anak-anak dan keluarga besarnya menjadi khalifah.

Utsman bin ‘Affan radliyallahu a’nhu rela mengumpulkan tulisan-tulisan Al Qur’an lalu membakarnya. Lho? Tujuannya tiada lain hanyalah untuk menyatukan persepsi dan qiraat. Dengan begitu akan terpeliharalah Al Qur’an dari berbagai salah tafsir dan salah dalam qiraatnya.

Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu dengan susah payah menyatukan umat Islam dari bahaya perpecahan internal yang sangat luar biasa. Dan hasilnya, luar biasa! Islam bisa kembali bersatu meskipun nyawa beliau sendiri sebagai taruhannya. 

Ya, begitulah para huffadz (penghafal) Al Qur’an dahulu.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button