Ini masih tentang imam Syafi’i dan pendapat beliau terhadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Ya, Wallahu a’lam, dahulu apakah seperti itu ketika menguji seseorang atau memang fitnahnya sangat luar biasa waktu itu. Sehingga seorang ulama sekelas imam Syafi’i saja ditanya tentang ‘kesetiaan’ beliau terhadp hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Setidaknya seperti riwwayat di bawah ini:
Humaidi berkata, ‘Suatu hari imam Syafi’i meriwayatkan sebuah hadits, lalu saya bertanya, “Apakah engkau harus menjadikannya sebagai dasar (dalam beramal)?”.
Imam Syafi’i menjawab, “Engkau melihat diriku keluar dari gereja atau memakai ikat pinggang –yaitu tali yang diikatkan di tengahnya sebagai tanda Ahli Kitab-, sehingga jika saya mendengar hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam saya tidak mengamalkannya?”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 10/34.
Nah bisa difahami bukan?

Padahal saat itu imam Syafi’i sedang menyampaikan sebuah hadits. Bukan hanya menyampaikan tetapi meriwayatkan sebuah hadits. Ini beda lho antara menyampaikan dengan meriwayatkan.
Bila menyampaikan maka seperti kebanyakan orang sekarang ini, yakni cukup membacakan hadits dari sebuah buku atau membacakan hadits dari hadits yang dihafalkannya. Sudah selesai.
Tetapi bila meriwayatkan, ini berbeda. Sebab meriwayatkan itu dia nanti pasti akan diminta pertanggung jawabannya. Di antaranya, dia siap untuk ditelusuri dari mana asal muasal hadits yang diterimanya. Lalu sang pemberi riwayat (hadits) itu siapa? Apakah orangnya amanah? Apa pekerjaan dia? Dia dari daerah mana? Dan masih banyak sekali.
Jadi memang sangat rumit ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya sedang ‘meriwayatkan’ sebuah hadits.
Nah, untuk kasus yang satu ini imam Syafi’i ketika meriwayatkan sebuah hadits beliau diuji dengan sebuah pertanyaan, “Apakah beliau mengamalkan (dan menerima) hadits tersebut?”.
Ini memang pertanyaan yang ‘aneh’ dan berbeda dari pertanyaan pada umumnya. Makanya beliau juga menjawabnya agak aneh juga, yakni, “Apakah si penanya itu pernah melihat dirinya (imam Syafi’i) keluar dari gereja dan memakai ikat pinggang seperti kebiasaan yang dipakai oleh pendeta di gereja?”.
Tujuannya apa imam Syafi’i balik bertanya seperti itu?
Ya tentu untuk meyakinkan si penanya bahwa imam Syafi’i memang benar-benar meriwayatkan sebuah hadits itu ya memang benar adanya, beliau juga mengimani hadits tersebut serta beliau juga mengamalkannya. Sebab bagi beliau, hadits adalah petunjuk tertinggi setelah Al Qur’an.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
