Faqih dalam Agama Bag.14

Dari Zakaria As Saaji, dia berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakam berkata, “Imam Syafi’i pernah berkata kepada saya, “Wahai Muhammad! Jika ada seseorang yang bertanya kepadamu tentang salah satu persoalan ilmu Kalam, maka janganlah engkau menanggapinya. Sebab jika engkau ditanya sehubungan jumlah diyat (tebusan), lalu engkau menjawab satu dirham, maka dia akan mengatakan, “Salah”. Dan jika dia bertanya kepadamu tentang materi ilmu Kalam, lalu engkau salah menjawab, maka dia akan menyatakan, “Engkau telah kafir”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nulabaa’ 10/28.

Inilah pesan dari salah seorang ahli ilmu dan salah satu dari empat imam madzhab. Yaitu beliau berpesan agar berhati-hati terhadap orang yang memiliki pemahaman Ilmu Kalam. Lho kok bisa?

Ya. Sebab ilmu kalam itu lebih cenderung pada faham Mu’tazilah. Bahkan selanjutnya ilmu kalam ini digandrungi oleh kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah. Makanya hampir seluruh empat imam madzhab menghindarinya. 

ilmu kalam

Ilmu kalam itu ilmu yang lebih mengedepankan nalar. Atau bahkan terkadang ilmu kalam itu juga dipakai untuk berdebat. Dan justru dari sinilah biasanya orang yang keukeuh dengan ilmu kalamnya ‘terjebak’. Yakni dia ‘melawan’ dalil yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala.

Maka benarlah apa yang dipesankan imam Syafi’i di atas. Yakni agar bila ada orang-orang ilmu kalam menanyakan sesuatu kepada Muhammad bin Abdillah bin Abul Hakam (termasuk generasi setelahnya) hendaknya agar tidak menanggapinya. Atau bahasa mudahnya, meninggalkan orang tersebut. Itu justru yang lebih selamat.

Di atas imam Syafi’i telah mengatakan bahwa jika orang ahli kalam itu bertanya tentang diyat saja dia akan menyalahkan. Sebab bagi mereka semuanya akan ‘dinalarkan’. Jadi apabila tidak bisa dicerna oleh nalar maka mereka akan menolak, ata setidaknya akan menyalahkannya. 

Padahal syariat dan ajaran Islam itu terkadang ada yang tidak bisa dinalar atau nalar manusia terkadang belum bisa mencernanya kecuali setelah beberapa masa yang akan akan datang. Seperti masalah ilmu astronomi, misalnya.

Belum lagi beberapa kabar yang ada dalam Al Qur’an yang jika dinalar pada saat turunnya Al Qur’an tentu tidak mungkin masuk akal. Tetapi Al Qur’an menceritakannya dan kaum muslimin wajib mengimaninya. Jika tidak maka batallah keimanannya.

Seperti kisahnya Nabi Musa ‘alaihi salam yang ketika terdesak, disuruhnya tongkat yang dibawa nabi Musa langsung berubah dan menjelma menjadi seekor ular raksasa. Begitu juga saat terdesak dikejar Fir’aun laknatullah, saat itu nabi Musa ‘alaihi salam diperintahkan agar mengetukkan tongkatnya ke tanah. Dan hasilnya, laut yang ada di hadapannya terbelah menjadi dua hingga nabi Musa ‘alaiihi salam dan para pengikutnya selamat dari kejaran Fir’aun laknatullah ‘alaihi.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button