Faqih dalam Agama Bag.11

Di antara ungkapan Ibnul A’rabi adalah ketika menyebutkan biografi Abul Husain An Nuuri, Ibnul A’rabi berkata, “Saat beliau (Abul Husain An Nuuri) meninggal dunia, banyak orang yang membicarakan tentang dirinya. Padahal jika mereka diam saja, itu lebih baik bagi mereka. Karena itu adalah hal-hal yang yang mereka ramalkan dan mereka menyimpang karena sangkaan-sangkaan itu. Jika mereka demikian, lalu bagaimana dengan sikap orang-orang setelah mereka?”.

Ibnul A’rabi juga menuturkan, “Mereka juga sering menyebut-nyebut Al Jam’u, sementara pengertiannya menurut masing-masing mereka berbeda. Demikian juga dengan gambaran arti Al Fana’. Mereka sepakat menyebut-nyebut istilah itu, namun berbeda-beda dalam memahaminya. Sebab, apa yang bisa difahami dari setiap ungkapan tidak terbatas, karena dia termasuk terminologi ilmiah”.

Ibnul A’rabi juga berkata, “Termasuk pula ilmu ma’rifah. Ilmu tersebut adalah ilmu yang luas tidak bertepi, demikian pula wujud dan rasanya”.

kefaqihan imam syafi'i

Beliau (Ibnul A’rabi) juga dalam ungkapan yang sangat bagus berkata, “Jika engkau mendengar seseorang menanyakan tentang Al Ja’mu dan Al Fana, atau (meminta) menjawab tentang Al Jam’u dan Al Fana, maka ketahuilah bahwa itu hanya omong kosong, dan berarti dia bukan ahlinya. Mereka tahu, bahwa hal itu tidak dapat digambarkan”.

Imam Adz Dzahabi berkata, “Demi Allah! Benar apa yang beliau (Ibnul A’rabi) katakan. Mereka terlalu berlebihan dalam segala hal sehingga tenggelam dalam rahasia-rahasia alam ghaib. Padahal semua klaim mereka hanyalah dugaan dan khayalan. Sementara segala hal semacam Al Fana, Al Mahwu, Ash Shahwu dan As Sukru hanyalah semacam halusinasi dan was-was belaka. Tidak ada seorangpun; baik Ash Shiddiq, sahabat maupun salah seorang imam dari kalangan tabi’in yang menyebut-nyebut istilah itu. Jika engkau hendak menyanggah klaim mereka, maka mereka akan membencimu sambil mengatakan, ‘Kamu adalah orang yang terhalang (dari ilmu tersebut)’.

“Jika engkau menerima begitu saja klaim mereka, maka akan goyahlah imanmu yang ada padamu. Keadaanmu pun berubah menjadi heran dan kebingungan. Engkau akan memandang para ahli ibadah dengan pandangan kebencian serta memandang ahli AL Qur’an dan ahli Sunnah dengan pandangan yang asing sambil mengatakan, ‘Kalian adalah orang-orang miskin dan terhalang (dari ilmu)’. Laa haula walaa quwwata illa billahi!

Imam Adz Dzahabi juga berkata, “Sesungguhnya hakekat ibadah, suluk, sair serta kecintaan sejati adalah sesuatu yang dinukil dari para sahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam berupa ridha kepada Allah, tetap bertaqwa kepada Allah, berjihad di jalan Allah, beradab dengan adab syar’i seperti membaca Al Qur’an dengan tartil disertai tadabbur, shalat malam dengan sikap khasy-yah (rasa takut kepada Allah) dan khusyu’ kepada-Nya, berpuasa pada waktu tertentu dan berbuka pada waktu yang lain, memberikan perkara yang ma’ruf, bersikap itsar (mendahulukan orang lain), mengajarkan orang-orang awam, bertawadhu’ kepada orang-orang mukmin dan bersikap tegas kepada orang-orang kafir. Meskipun demikian, hanya Allah yang membimbing siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. Seorang ulama yang kosong dari sikap tashawwuf dan beribadah, maka dia menjadi tidak berisi, sebagaimana seorang yang melakukan (praktek) tashawwuf namun kosong dari ilmu tentang As Sunnah, maka dia akan tergelincir dari jalan yang lurus”.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button