Zuhud Terhadap Ketenaran 6

Bila di atas khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu ketika menjelang ajalnya telah menunjuk enam orang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Lalu dari keenamnya sebenarnya nama yang paling populer dan menonjol adalah Abdurrahman bin Auf. Namun ternyata Abdurrahman bin Auf malah justru mundur dari bursa calon khalifah.

Nah setelah perhelatan akbar itu selesai dan berakhir dengan terpilih dan diangkatnya Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga, maka sahabat Abdurrahman bin Auf sudah merasa ‘aman’ dari bursa pencalonan sebagai khalifah.

Namun rasa ‘nyaman’ itu ternyata tidak lama bagi seorang Abdurrahman bin Auf. Sebab setelah sekitar dua belas berikutnya, Utsman bin Affan telah menulis semacam supersemar (surat perintah/perjanjian). Yakni surat suksesi dari diri Utsman bin Affan kepada Abdurrahman bin Auf radliyallahu ‘anhu.

Dan lagi-lagi, begitu tahu bahwa surat yang dibawakan sekretaris khalifah Utsman bin Affan, Hamran, itu diserahkan kepada Abdurrahman bin Auf dan dibacanya, maka Abdurrahman bin Auf ‘meradang’. Walau meradangnya di sini bukan berarti Abdurrahman bin Auf benci kepada khalifah Utsman bin Affan melainkan Abdurrahman bin Auf memang sama sekali tidak silau dengan jabatan dan ketenaran. 

Abdurrahman bin Auf

Sebab bagi beliau, ketenaran itu boleh-boleh saja tetapi bukan tenar pada penduduk bumi melainkan tenar pada penduduk langit.

Oleh karena itulah akhirnya Abdurrahman bin Auf berdoa, sebagaimana yang tercantum pada kitab Siyaru A”laamin Nubalaa’ berikut ini:

Dari Ibnu Wahab, kami diberitahu oleh Ibnu Luhai’ah, dari Yahya bin Sa’ad, dari Abi Ubaid bin Abdillah bin Abdirrahman bin Azhar, dari bapaknya, dari kakeknya bahwa Utsman mengadu tentang suksesi. Maka dipanggilah Hamran.

Utsman berkata kepada Hamran, “Tuliskan untuk Abdurahman bin Auf perjanjian setelahku”.

Maka ditulislah apa yang diperintahkan khalifah Utsman bin Affan.

Setelah menulis Hamran langsung pergi menemui Abdurrahman bin Auf. 

Sesampainya di hadapan Abdurrahman bin Auf, Hamran berkata, “Ada satu kabar!”.

“Apa itu?”, tanya Abdurrahman bin Auf.

Hamran berkata, “Sesungguhnya khalifah Utsman telah menulis sebuah perjanjian untukmu setelahnya (setelah Utsman meninggal maksudnya, pen)”.

Maka langsung saja Abdurrahman bin Auf berdiri di dekat mimbar lalu berdoa:

اللهُـمَّ إِنْ كَانَ مِنْ تَـوَلِّـيَـةِ عُـثْـمَـانَ إِيَّـايَ هَذَا الْأَمْرَ، فَــأَمِتْـنِي قَـبْلَـهُ.

“Ya Allah. Seandainya hal ini karena tugas dari Utsman bin Affan kepadaku, maka matikanlah aku sebelum dia (meninggal dunia)”.

Dan ternyata Abdurrahman bin Auf usianya tidak lebih dari enam bulan setelah beliau berdoa itu lalu beliau meninggal dunia. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 1/88.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button