Zuhud Terhadap Ketenaran 4

Abu Bakar Al Hanafi Abdul Kabir berkata, Kami mendapatkan Bukair bin Mismar, dari Amir bin Sa’ad bahwa saudaranya Umar bin Sa’ad mengunjungi ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang mengembalakan kambingnya di pedalaman kabilah Arab, dia datang dari Madinah. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash melihat putranya, beliau berdoa:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَـرِّ هَـذَا الرَّاكِـبِ.

Saya berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang berkendara ini (menunggang kuda atau unta).

Ketika putranya mendatanginya, dia berkata, “Wahai ayahku, apakah engkau rela menjadi seorang Arab Badui di tengah-tengah kambingmu (menggembala kambing), sedangkan manusia berebut tahta dan pangkat di kota Madinah?”.

Maka Sa’ad bin Abi Waqqash radiyallahu ‘anhu memukul dada Umar putranya sambil mengatakan, “Diamlah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَـزَّ وَجَـلَّ يُـحِبُ الْعَـبْدَ التَّـقِـيَّ الْغَـنِـيَّ الْخَـفِـيَّ.

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai seorang hamba yang bertaqwa, Al Ghaniyu (merasa cukup dengan pemberian Allah Azza wa Jalla) dan Al Khafiyu (tersembunyi). Terdapat dalam kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 1/102.

Sepintas hadits di atas seakan memberi gambaran bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah memberi informasi bahwa Allah sangat suka terhadap hamba-Nya yang kaya raya,,,,.

saad bin abi waqqosh

Namun jika mau meneliti dari jawaban Sa’ad bin Abi Waqqash kepada anaknya, Umar, hingga Sa’ad bin Abi Waqqash menepuk dada putranya. Itu menunjukkan bahwa sebenarnya hadits yang disampaikan kepada putranya itu sebagai jawaban dari ‘kegundahan’ putranya yang melihat ayahnya hanya berkutat menjadi pengembala kambing. Padahal dahulunya, di saat muda, Sa’ad bin Abi Waqqash adalah seorang salah satu panglima. Sementara sekarang, setelah tua putranya melihat ayahnya hanya menjadi pengembala kambing, tidak mendapatkan jabatan apa-apa.

Jadi seakan putranya ‘protes’ dengan keadaan ayahnya dan mendorong ayahnya agar mau ikut berebut mengejar jabatan. Dan bila ayahnya mau, tentu ayahnya jauh lebih berhak mendapatkan jabatan apa saja yang diinginkan. Sebab nama Sa’ad bin Abi Waqqash sangat melekat di hati masyarakat Madinah.

Ya, begitulah para sahabat. mereka tidak menginginkan dunia kecuali hanya dijadikan sebagai jembatan menuju akhirat, bukan sebagai terminal akhir.

Lihat saja Abdurrahman bin Auf. Beliau bukan hanya milyader, tetapi lebih dari itu. Tetapi makanan yang beliau makan sama dengan kaum muslimin kelas rendahan di Madinah. Bila beliau bangun tidur, di pipinya juga masih terlihat guratan-guratan bekas pelepah kurma.

Itu menunjukkan bagaimana cintanya Abdurrahman bin Auf kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sehingga kehidupan sekecil apapun beliau ikuti.

Selain itu Abdurrahman bin Auf jugalah yang menanggung keuangan istri-istri Rasulullah sepeninggalnya Rasulullah. Namun ketika ibunda ‘Aisyah mengatakan bahwa kelak Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan cara merangkak, Abdurrahman bin Auf pun langsung menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah, bukan malah marah kepada ibunda ‘Aisyah. Sebab memang yang dicari bukan ketenaran melainkan ridha Allah Ta’ala.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button