Pepatah Indonesia mengatakan: “Lain lubuk lain kepala lain pula hatinya. Lain orang lain kepala lain pula hatinya”.
Mungkin itulah potret pemimpin. Ya, jika sang ibu itu melontarkannya hari ini, tentu sang ibu akan ditangkap dan terkena delik “penghinaan terhadap presiden”, atau “merendahkan martabat presiden”. Tetapi karena saat itu sang ibu hidup pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu maka yang terjadi justru sebaliknya. Umar bin Khaththab justru lantas pergi meninggalkan rumah sang ibu miskin itu dan menangis di tengah jalan. Beliau memohon ampun kepada Allah disebabkan beliau merasa teledor hingga tidak tahu bila ada rakyatnya yang kesusahan.
Khalifah Umar langsung ke baitul maal dan mengambil sekarung gandum. Beliau membawa sendiri sekarung gandum itu dengan diletakkan di punggungnya dan langsung dibawa ke rumah ibu yang sedang memasak air dan pasir itu.
Saat pengawalnya melihat pemimpinnya membawa sekarung gandum itu segera menawarkan untuk menggantikannya. Namun khalifah Umar menolaknya.
Kata khalifah Umar, “Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah Ta’ala akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar Aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibandingkan siksaan Allah di akhirat kelak”.

Akhirnya khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu mengangkatnya hingga ke rumah sang ibu yang miskin itu.
Inilah pemimpin yang tahu tentang agama dan mengamalkannya. Sebab dia tahu konsekwensinya di akhirat kelak bila sampai rakyatnya kelaparan.
2. Seorang wanita tua yang menegur Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu.
Untuk kisah yang satu ini sungguh sangat menggelitik. Betapa tidak?
Ketika seorang khalifah Umar sedang melakukan ‘patroli’ di tengah-tengah masyarakat, tahu-tahu ada seorang wanita tua langsung meminta khalifah Umar agar berhenti.
Kemudian wanita tua itu berkata, “Wahai Umar, dahulu engkau dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian engkau (setelah dewasa) dipanggil Umar, lalu (sekarang) dipanggil Amirul Mukminin. Maka bertakwalah engkau, wahai Umar. Karena barangsiapa yang meyakini adanya kematian, niscaya dia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barangsiapa yang meyakini adanya perhitungan (amal), maka dia pasti takut kepada siksa”.
Saat itu para pengawal emosi dan hampir-hampir wanita tua itu ditangkap namun dilarang khalifah Umar. Bahkan khalifah Umar berkata, “Demi Allah. Seandainya beliau menahanku dari permulaan siang hingga akhir siang, niscaya aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa wanita tua itu?”.
“Dialah Khaulah binti Tsa’labah. Allah mendengar perkataannya dari atas tujuh langit. Apakah Tuhan seluruh alam mendengar ucapannya, sementara Umar tidak mendengarkannya?”.
Khaulah binti Tsa’labah adalah seorang wanita Anshar. Doa dan gugatannya didengar oleh Allah hingga menjadi sebab turunnya surat Al Mujaadalah ayat 1-4.
Sungguh kisah di atas bukan hanya suatu kemuliaannya seorang Khaulah binti Tsa’labah melainkan juga disebabkan Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu memiliki ilmu agama lalu diamalkannya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
