Masih perkataannya imam Adz Dzahabi, juga pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 18/191-192, beliau berkata, “Barangsiapa menimba ilmu dengan tujuan agar dapat diamalkannya, niscaya ilmunya akan membuatnya merasa lemah (tidak ada apa-apanya) dan akan menggiringnya untuk selalu introspeksi (hingga) menangisi dirinya.
Barangsiapa yang menimba ilmu dengan tujuan untuk mengajar dan berfatwa, berbangga diri dan sombong, (maka) dia akan menjadi bodoh, takabbur dan meremehkan manusia. Dia pun akan binasa dengan ujub yang akhirnya akan dibenci manusia.
قَدْ أَفْـلَ مَن زَكَّـىهَـا. وَقَدْ خَـابَ مَن دَسَّـىهَـا.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. Qs. Asy Syams 9-10.
Yang dimaksud dengan merugi pada kalimat (مَنْ دَسَّاهَـا): merugi karena perbuatan durhaka dan maksiat”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 18/191-192.
Subhaanallah. Sudah berapa banyak para salafush shalih mengingatkan tentang niat. Hal itu mrngingatkan kembali pada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang telah bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya hanya (diniatkan) untuk Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya (akan mendapatkan) Allah dan rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) untuk dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan mendapatkan) apa yang sesuai dengan yang diniatkannya”. Diriwayatkan Bukhari, Muslim dan empat imam ahli hadits.

Nah dalam hal ini imam Adz Dzahabi menyebutkan tentang orang-orang yang mencari ilmu; bila diniatkan untuk mengamalkan ilmu yang didapatkannya kelak maka –imam Adz Dzahabi- akan membuat hatinya selalu bersih. Sebab dia akan selalu melakukan introspeksi diri secara kontinyu. Tetapi sebaliknya bila mencari ilmunya itu hanya (berniat) untuk mencari gelar, berbangga diri, mencari pekerjaan dan sebagainya maka dia pasti akan Allah binasakan. Seperti sombong, suka meremehkan orang lain, membuat fatwa dan sebagainya, maka dia akan semakin bodoh. Lho?
Bukankah di atas langit itu ada langit? Sebab untuk berfatwa itu saja seseorang harus memenuhi beberapa persyaratan. Salah satunya, dia harus faham betul tentang sesuatu yang akan difatwakan. Ya, ini baru salah satu syaratnya belum ada lagi yang lain syarat yang harus dipenuhi. Sehingga tidak semudah itu seseorang berfatwa.
Seandainya berfatwa itu memang mudah tentu agama ini akan rusak dan kacau. Sebab bila ada seseorang yang telah menyelesaikan studinya di suatu universitas ternama di dunia maka dia akan berfatwa. Atau ketika seseorang telah mencapai gelar tertentu maka dia akan dengan ringan berfatwa.
Justru hal inilah yang membuat umat kebingungan. Dan selain itu dirinya justru akan terlihat bodohnya. Sebab para imam madzhab saja tidak semudah itu berfatwa.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
