Dalam kitab Al Hilyatul Auliya’, 2/200, disebutkan, diriwayatkan Abul Asyhab, dari seorang laki-laki, Mutharrif bin Abdillah berkata, “Seseorang yang tidur terlelap (semalam suntuk) lalu dia terbangun dengan penuh penyesalan akan dosanya, lebih aku sukai daripada seseorang yang melakukan shalat tahajjud (qiyamul lail) semalam suntuk, namun ketika pagi hari, muncul perasaan ujub (bangga diri) di dalam hatinya atas ibadahnya tersebut”.
Kemudian imam Adz Dzahabi menanggapi pernyataan Mutharrif tersebut, katanya, “Tidak akan berjaya, demi Allah, orang yang merasa dirinya suci dan merasa dirinya hebat”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 4/190.
Ya, inilah prinsip dasar dari dalam hati para salafush shalih. Qiyamul lail (tahajjud) adalah suatu kebiasaan yang mereka lakukan dari masa ke masa. Sehingga apabila ada seseorang yang berbangga bahwa dirinya telah melakukan qiyamul lail (atau bila sekarang sering dibuat ‘status’ di medsosnya) maka hal itu sebenarnya tidak ada gunanya. Sebab itu sudah menjadi kebiasaan mereka.
Bahkan qiyamul lail sebenarnya adalah bukti dari penempaan ruh (hati/mental) bagi setiap muslim. bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat dahulu juga selalu melaksanakan shalat tahajjud?

Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. Qs. Al Muzzammil 1-9.
‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma ketika mengomentari ayat ini, beliau mengatakan bahwa sejak turunnya surat Al Muzzammil ini Allah tidak menurunkan ayat berikutnya hingga satu tahun lamanya. Hal ini membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat waktu menjadi cemas. Mereka takut bila mereka telah melakukan suatu kesalahan hingga Allah tidak menurunkan wahyu.
Namun setelah shalat tahajjudnya sudah menjadi rutinitas dan bahkan kebutuhan Rasulullah dan para sahabat maka Allah menurunkan wahyu berikutnya;
Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang orang-orang kafir lagi tidak mudah. Qs. Al Mudatstsir 1-10.
Jadi para salafush shalih, melaksanakan qiyamul lail itu adalah suatu kebutuhan bukan sesuatu yang menjadi bahan kebanggaan yang kemudian diceritakan kepada banyak manusia.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
