Para Salaf sangat Takut dengan Kemasyhuran 8 b

Lanjutan,,,

Pada malam kedua, saya kembali shalat isya’ di masjid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, lalu saya mendatangi tiang saya tersebut dan berbaring di sana.

Tiba-tiba laki-laki itu datang dan berdiri di tempat biasanya. Dia menyelimuti tubuhnya dengan kain, sementara kain lainnya yang berada di punggungnya dia letakkan di kedua kakinya kemudian dia shalat.

Dia terus melakukan shalat sampai dia kahawatir kalau datang waktu subuh, baru dia kemudian melakukan witir dan shalat dua rakaat sunnah fajar. Setelah iqamah berkumandang dia langsung shalat berjamaah, dan saya pun turut bersamanya.

Ketika imam telah mengucapkan salam, dia keluar dan saya pun keluar mengikutinya. Dia mulai berjalan dan saya mengikutinya hingga sampai ke sebuah rumah di Madinah yang saya ketahui. Setelah itu sayapun kembali ke masjid.

Setelah terbit matahari dan saya telah menyelesaikan shalat (dhuha), saya keluar untuk mendatangi rumah tersebut. Saya dapati dirinya sedang duduk menjahit, dan ternyata dia seorang tukang sepatu. Ketika dia melihat saya, dia segera mengenali saya.

Dia menyapa, “Abu Abdullah, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu? Anda mau saya buatkan sepatu?”.

Saya segera duduk dan berkata, “Bukankah engkau adalah teman saya yang berdoa di malam kemarin lusa?”.

sifat tawadhu

Rona wajahnya pun langsung berubah dan dia berteriak, katanya, “Wahai Ibnul Munkadir, apa urusanmu dengan kejadian itu?”.

Laki-laki itu marah besar. Saya pun segera meninggalkannya. Saya mengatakan, “Sekarang juga saya keluar dari tempat ini”.

Pada malam ketiga, saya kembali shalat isya’ di akhir waktu di masjid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, kemudian menuju tempat saya yang biasa itu untuk berbaring. Namun laki-laki itu tak kunjung datang.

Muhammah bin Munkadir bergumam, Inna lillah, apa yang saya perbuat?”. 

Setelah datang pagi hari, saya duduk di masjid hingga terbit matahari. Kemudian saya keluar untuk mendatangi rumah yang ditempati laki-laki tersebut. Ternyata saya dapati pintunya terbuka. Dan ternyata rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi.

Pemilik rumah yang ditinggali laki-laki itu bertanya kepada saya, “Wahai Abu Abdullah, apa yang terjadi antara anda dengan dirinya kemarin?”.

Saya balik bertanya, “Memangnya apa yang terjadi padanya?”.

Orang-orang berkata, “Ketika anda keluar dari rumahnya kemarin, laki-laki itu segera membentangkan kainnya di tengah ruangan rumahnya. Kemudian dia tidak menyisakan selembar kulit ataupun sepatu. Semuanya dia letakkan dalam kainnya lalu dia membawanya. Setelah itu kami tidak tahu kemana dia pergi”. 

Muhammah bin Munkadir menceritakan, “Setiap rumah yang ada di kota Madinah yang saya ketahui, saya singgahi untuk mencarinya, namun saya tidak mendapatkan orang itu. Semoga Allah merahmatinya”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shaffah 2/190-192.

Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa para salafush shalih amat sangat tidak suka bila banyak orang yang kenal kepada dirinya.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button