Dalam sebuah hadits disebutkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jundab bin Abdillah radliyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
مَنْ سَـمَّـعَ سَـمَّعَ اللهُ بِـهِ، وَمَنْ يُـرَائِى يُـرَائِـيَ اللهُ بِـهِ.
“Barangsiapa (beramal) tujuannya untuk didengar (oleh manusia) maka Allah akan memperdengarkan padanya. Dan barangsiapa (beramal) dengan tujua supaya dilihat (orang) maka Allah akan memperlihatkan kepadanya”. Diriwayatkan Bukhari no. 6499, dan Muslim no. 2987.
Jadi ikhlas itu lawannya yang riya’ dan sum’ah. Riya’ itu sendiri ya sebagaimana yang telah disebutkan pada hadits di atas. Yakni, kata riya’ itu asal katanya dari kata ru’yah yang artinya seseorang menyukai dilihat oleh orang lain. Lalu dirinya beramal shalih dengan tujuan supaya orang lain yang melihatnya lalu (akan) memujinya.
Perbedaannya antara riya’ dan sum’ah adalah kalau riya’ dari amal perbuatan yang kelihatannya dilakukan karena Allah padahal sebenarnya dirinya beramal agar dilihat manusia lalu dia akan dipuji oleh manusia yang melihatnya. Seperti shalat.

Adapun sum’ah; maka dia berkaitan dengan ucapan-ucapan yang diperdengarkan, secara lahiriyah dikerjakan karena Allah tetapi sebenarnya ditujukan agar manusia memujinya. Seperti; membaca Al Qur’an dengan cara diperbagus suaranya, dzikir, memberi nasehat kepada orang dengan ucapan-ucapannya, dan lainnya.
Pada prinsipnya riya’ dan sum’ah itu dilakukan seakan karena Allah tetapi terkadang terselip atau bahkan diselipkan agar mendapat pujian dari manuisa.
Nah di sinilah letak larangannya. Yakni; di satu sisi dia beramal karena Allah Ta’ala tetapi di sisi yang lain dalam hatinya juga ‘menyisipkan’ agar ada manusia yang memujinya. Makanya kemudian dua perkara ini (riya’ dan sum’ah) itu sangat ditakuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dalam hadits disebutkan, sabdanya:
إِنَّ أَخْـوَفَ مَ أَخَافُ عَـلَيْـكُـمُ الشِّرْكُ الْأَصْـغَرُ.
قَالُـوْا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْـغَـرُ؟
قَالَ: الرِّيَـاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kaian adalah syirik kecil”.
Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?”.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Riya’”. Diriwayatkan Ahmad.
Maka tidak heran bukan, jika kemudian Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Seandainya kalian tahu apa saja yang saya ketahui pada diri saya sendiri, (maka) saya akan menghimbau agar (kalian) meletakkan tanah ke atas kepala saya”.
Maksudnya agar beliau bisa selamat dari dosa syirik. Yakni beliau takut jika ternyata secara tidak diketahui oleh beliau sendiri ternyata beliau juga memiliki ‘penyakit’ riya’ atau sum’ah.
Subahaanallah. Begitu takutnya para salafush shalih dalam masalah ini.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
