Salaf, Antara Akhlak dan Shiddiq Bag.10

Sesungguhnya para salafush shalih selalu menjaga hatinya agar setiap amalnya ikhlas hanya diperuntukkan kepada Allah saja. 

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِـيَعْـبُدُوْا اللهَ مُـخْلَـصِيْـنَ لَهُ الدِّيْـنَ.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. Qs. Al Bayyinah 5.

Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama tabi’in mengomentari ayat ini dengan mengatakan bahwa syarat diterimanya amal itu ada dua: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan. Yakni tuntunan dari Allah dan rasul-Nya.

Ya, kedua syarat itu memang tidak bisa dipisah-pisah. Ikhlas saja, umpama. Maka amalnya tidak akan diterima Allah. Sebab amalan yang diamalkannya tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya. Atau sebaliknya, seseorang beramal tidak ikhlas tetapi sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya, maka ini juga tidak akan diterima.

ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan

Jadi keduanya (ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Allah dan asul-Nya) harus klop, tidak bisa dipisah-pisah.

Dan ternyata hal itu pun akan berpengaruh pada masalah dakwah. Yakni jika seseorang berdakwah hanya karena agar dipuji, disanjung dan dielu-elukan, maka dakwahnya tidak akan bisa sampai kepada pendengar atau mad’u (orang yang didakwahi). Sebab orang yang berdakwah itu berangkatnya dari hal-hal yang tidak diinginkan Allah dan rasul-Nya, ikhlas.

Jadi kembali kepada hati, yakni jika seseorang berdakwah, meski dia bukan seorang orator dan tidak menguasai audiens namun hatinya ikhlas karena Allah tatkala dia menyampaikan maka bisa dipastikan bahwa dakwahnya akan mengena pada para pendengarnya. 

وَرَوَى أَنَّ قَاصًا كَانَ بِـقَرْبِ مُحَـمَّدَ بْنَ وَاسِعُ، فَـقَـالَ: مَالِي أَرَى الْقَلْبَ لَا تَـخْشَـعُ، وَالْعُـيُوْنَ لَا تَدْمَـعُ، وَالْجُـلُوْدَ لَا تَـقْشَـعِرُّ؟

فَـقَالَ مُحَـمَّدُ: يَـا فُلَانَ، مَا أرَى الْقَـوْمَ أَتُـوْا إِلّا مِنْ قِبَـلَكَ: إِنَّ الذِّكْـرَ إِذَا خَـرَجَ مِنَ الْقَـلْبِ وَقَـعَ عَـلَى الْقَـلْبِ.

Diriwayatkan bahwa ada sebuah cerita bahwa ada seseorang yang mendatangi Muhammad bin Wasi’, dia berkata, “Saya tidak melihat apapun pada hati yang tidak memiliki rasa takut (kepada Allah), dan mata yang tidak pernah menangis, dan bulu-bulu (roma) yang tidak pernah merinding?”.

Muhammad (bin Wasi’) menjawab, “Wahai fulan. Saya tidak melihat suatu kaum yang datang kecuali darimu: Sesungguhnya dzikir (mengingat Allah) apabila keluar dari hati maka dia akan sampai juga ke hati (orang lain”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 6/122.

Subhaanallah, ternyata benar para salafush shalih. Bahwa hati itu tidak bisa dipungkiri.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button