Dalam kitab Siyaru A’laamun Nubalaa’ 6/19, disebutkan bahwa Ayyub penah mendengar orang-orang suka berandai-andai tentang keduniaan mereka. Lalu ada seseorang yang berkata, “Hendaklah bertaqwa kepada Allah. Sesungguhnya zuhud itu sama sekali tidak akan memberikan efek negatif terhadap orang lain. Dan zuhud yang terbaik adalah ketika zuhudnya itu tidak diketahui oleh orang lain”.
Subhaanallah! Itulah akhlak salafush shalih. Ketika mereka mengetahui ada manusia yang sedang mengeluhkan tentang dunia (baik karena kesulitan hidup, ingin pamornya naik, ingin jabatan tinggi dan sebagainya) maka dia menasehatinya dengan tidak menyebut namanya. Sehingga tidak menyakiti hatinya dan tidak merendahkan orang tersebut.
Ya. Inilah akhlak salafush shalih. Mereka menegur orang yang salah dengan cara yang santun, tidak merendahkannya dan tidak menjatuhkannya di depan orang banyak.
Lalu kenapa para salafush shalih mengajak agar berbuat zuhud?
Sebab memang zuhud itulah yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam kehidupan nyata. Betapa tidak?

Ketika Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu berkunjung ke rumah Rasulullah, terlihat dari pipi beliau bekas guratan pelepah kurma yang dijadikan sebagai tempat tidur. Umar langsung menangis. Saat ditanya Rasulullah, kenapa dirinya menangis?
Umar menjawab bahwa para raja di Persia dan Romawi saja tidurnya di dipan yang sangat mewah tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam hanya beralaskan anyaman kulit kurma. Sungguh sangat berbeda sekali.
Sebenarnya bukan Rasulullah tidak sanggup untuk melakukan hal sama dengan para raja di dunia waktu itu. Tetapi sebenarnya beliau mengajarkan pada kehidupan yang sederhana. Bahkan beliau mengajarkan agar bagaimana caranya angannya selalu berada di atas langit meski raganya masih berada di dunia.
Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang zuhud ini:
تَـرْكُ الدُّنْـيَـا مَالَا يَـنْـفَـعْ لِلْآخِرَةِ.
“Meninggalkan urusan dunia bila urusan dunia itu tidak ada kemanfaatannya untuk kehidupan akhirat”.
Setidaknya dapat diambil gambaran bahwa zuhud menurut Islam itu tidak sama dengan yang difahami oleh agama lain. Di agama lain bisa saja menganggap zuhud itu kemiskinan, kemelaratan dan ketertinggalan dalam segala hal. Tetapi zuhud dalam Islam adalah segala sesuatu yang apabila bisa membantu untuk kehidupan akhirat maka hal itu akan direngkuhnya tetapi bila tidak ada kemanfaatannya untuk kehidupan akhirat maka akan ditinggalkannya.
Seperti HP misalnya, jika HP itu hanya dipakai untuk numpang nampang di medsos maka HP tersebut tidak ada kemanfaatannya untuk akhirat. Maka seharusnya dia akan meninggalkan HP. Tetapi bila HP itu selalu digunakan untuk baca AL Qur’an, misalkan ketika di sela-sela kerja atau di sela-sela istirahat, maka HP itu bisa bermanfaat untuk akhiratnya. Maka HP itu harus diupayakan untuk didapatkan.
Yah begitulah para salafush shalih dalam beramal. Selalu mengutamakan akhirat.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
