Salaf, Antara Akhlak dan Shiddiq

Salafi memiliki akhlak? Mungkinkah?

Terkadang muncul pertanyaan semacam ini. Sebenarnya pertanyaan itu muncul tentu ada penyebabnya bukan?

Ya. Sebab ada orang-orang yang senangnya mengklaim bahwa diri mereka adalah yang paling salaf. Tetapi kenyataannya di lapangan perilakunya cenderung tidak mencerminkan perilaku seseorang yang mengikuti manhaj salafush shalih. 

Lalu bagaimanakah sesungguhnya perilaku para salafush shalih itu?

Setidaknya para salafush shalih itu memiliki akhlak yang mulia dan memiliki sifat yang shiddiq (dapat dipercaya). Di antaranya adalah; mereka sangat senang dengan menyembunyikan amalnya dari orang lain. Seperti;

* Sebagaimana yang diriwayatkan dari Bakar bin Maa’iz yang mengatakan bahwa Rabi’ selalu melakukan shalat tathawwu’ di masjid. Lihat Siffatush Shafwah 3/61.

Salaf, Antara Akhlak dan Shiddiq

* Pada riwayat lain disebutkan bahwa hampir semua amalan Rabi’ dilakukannya secara rahasia. Idem.

* Dari Mundhir, dari Rabii’ bin Khutsaim berkata, “Setiap kali seseorang tidak menghadapkan dirinya kepada Allah maka akan semakin melemah”. Idem.

Setidaknya dari ketiga riwayat tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa;

Pertama: para salaf lebih menyibukkan dirinya di masjid ketika memang waktunya sudah harus ke masjid. Mereka tidak mau menunda-nunda untuk ke masjid. Mereka juga tidak memiliki waktu untuk bergosip ria.

Kedua: mereka lebih sering dalam melakukan amal shalih selalu merahasiakan amal shalihnya. 

Ya, inilah adalah bagian dari adab dan akhlak serta bentuk kesiddiqan seorang hamba kepada Allah. Lho, kok bisa?

Sebab dengan menyembunyikan amal shalihnya setidaknya dirinya bisa terbebas dari rasa ujub (berbangga dengan diri sendiri) dan riya (ingin dipuji-puji oleh orang lain). Selain itu juga salah satu dari mengikuti kebiasaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan bentuk dari kesiddiqan atas cintanya kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa salam. 

Sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dahulu pernah melakukan shalat tahajjud di malam hari di masjid. Nah kerana ketahuan oleh saalah seorang sahabat beliau, maka pada malam berikutnya ada sahabat yang mengikutinya. Lalu pada malam berikutnya lagi ternyata sahabat yang mengikuti shalat tahajjud itu semakin tambah. Kemudian pada malam berikutnya sahabat yang mengikuti tahajjud beliau pun semakin bertambah banyak.

Maka pada malam berikutnya beliau tidak shalat di dalam masjid. 

Saat ditanaya alasannya, beliau menjawab bahwa beliau takut bila nanti semua sahabat mengikuti beliau sahalat tahajjud maka ditakutkan di kemudian hari, shalat tahajjud itu diangapnya sebagai shalat wajib.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button