Marhaban Ramadhan Bag.4

2. I’tikaf. 

I’tikaf adalah salah satu amalan mulia yang ada di bulan Ramadhan. Bahkan sejak munculnya syariat i’tikaf ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah meninggalkannya hingga beliau wafat. Sebagaimana yang disebutkan ibunda ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma:

عَنْ عَـائِشَـةَ رَضِيَ اللهُ عَنْـهُـمَا قَالَتْ: أَنَّ النَّـبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَـعْـتَكِـفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّـى تَـوَفَّاهُ اللهُ، ثُـمَّ اعْتَـكَفَ أَزْوَاجَـُهُ مِنْ بَعْـدِهِ.

Dari ‘Aiysah radliyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu para istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat”. Muttafaqun ‘Alaihi.

Dari hadits di atas akhirnya banyak para salafush shalih mengikuti jejak beliau shalallahu ‘alaihi wa salam. Sebab ada faedah dari hadits di atas, di antaranya:

– Hadits di atas sebagai dalil mengenai anjuran i’tikaf sepuluuh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam terus menerus merutinkan hal itu hingga beliau meninggal dunia.

itikaf

– Hikmah dikhususkannya sepuluh hari terakhir dengan i’tikaf dapat dilihat pada hadits Abu Sa’id  AL Khudri radliyallahu ‘anhu, di mana Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“إِنَّى اعْتَـكَفْـتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ أَلْتَـمِسُ هَذِهِ اللَّيْـلَةَ ثُـمَّ اعْـتَكَفْـتُ الْعَشْرَ الأَوْسَـطَ ثُـمَّ أُتِيْـتُ فَـقِيْـلَ لِى إِنَّـهَا فِى الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَـمَنْ أَحَبَّ مِنْكُـمْ أَنْ يَـعْتَـكِـفَ فَـلْيَـعْتَكِفْ”. فَاعْتَكَـفَ النَّـاسُ مَعَـهُ.

“Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar papda malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf pada pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan kepadaku bahwa lailatul qadar itu sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah”. Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. Diriwayatkan Bukhari no. 2018 dan Muslim no. 1167.

– I’tikaf itu disyariatkan setiap waktu, namun lebih ditekankan lagi di bulan Ramadhan, lebih-lebih ladi di sepuluh hari terakhir di bulan suci tersebut.

– Hukum i’tikaf masih tetap berlaku dan tidak terhapus, juga bukan khusus untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam saja. Karena istri-istri beliau pun beri’tikaf setelah beliau wafat.

– Dibolehkannya i;tikaf bagi wanita. Jumhur ulama mengatakan bahwa disunnahkan bagi para wanita untuk beri’tikaf sebagaimana kaum pria. Namun dengan syarat; (1) i’tikaf tersebut dilakukan dalam keadaan suci –bagi ulama yang mensyaratkan masuk masjid harus suci dari haid, (2) harus bebas dari fitnah (godaan para lelaki), dan (3) diizinkan suami mereka.

Kenapa harus dapat izin dari suami? Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

لَا يَـحِلُّ لِـلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُـهَـاشَاهِـدٌ إِلَّا بِـإِذْنِـهِ.

“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ketika itu ada kecuali dengan seizinnya”. Diriwayatkan Bukhari no. 5195.

Dari hadits di ataslah akhirnya ditegaskan bahwa i’tikafpun harus seizin suaminya.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button