Bagaimana jadinya apabila suami istri sepulang dari pertemuan itu masing-masing dari mereka saling curiga?
Bagaimana tidak? Bila seorang suami melihat dari kejauhan bahwa istrinya bisa tertawa lepas dengan laki-laki lain (entah saudara suami atau relasi kerja suaminya atau bahkan bossnya suaminya). Padahal suaminya sering melihat istrinya kalau di rumah seperti wanita pingitan. Tetapi kenapa ketika diajak berkunjung ke saudaranya atau ketika diajak bertemu dengan relasi kerja suaminya atau diajak bertemu dengan bossnya kenapa bisa begini? Misalnya.
Sebaliknya, sang istri juga melihat suaminya yang matanya sering melirik-lirik wanita lain, misalkan.
Seorang suami yang secara diam-diam mengagumi wanita lain yang karena melihat kecerdasannya atau mudahnya dalam komunikasi dengan dirinya (saat pertemuan itu), misalkan. Lalu sang suami membanding-bandingkan dengan istrinya yang mungkin dari sisi pemahamannya kurang bila dibandingkan dengan wanita tadi.

Dari sini saja setidaknya sudah bisa difahami bahwa ternyata perkumpulan yang dikemas dengan silaturahim itu mampu menimbulkan persoalan di rumah tangganya masing-masing. Termasuk menghadiri acara-acara seremonial yang dilakukan seperti orang-orang kafir barat. Yakni makan sambil berdiri, makan bersama tanpa adanya pemisah antara laki-laki dan perempuan, ngobrol juga bisa bersama-sama. Sehingga akan menimbulkan kesan tersendiri di belakangnya nanti.
Su’udzon (berburuk sangka)?
Bukan berburuk sangka atau su’udzon, melainkan perbuatan itu setidaknya telah ‘memancing’ di air keruh. Bukankah setan itu sangat pandai? Dia bisa mencari celah dari mana saja sehingga setan benar-benar bisa menggoda dan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kenistaan. Setidaknya bisa meretakkan hubungan rumah tangganya.
Ada sebuah hadits, dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma, dia berkata:
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَـارَسُوْلَ اللهِ، أَقُوْلُ إِنَّ زَوْجِـى أَعْطَانِى مَالَـمْ يُـعْطِـنِى. فَـقَـالَ رَسُوْلُ اللهُ صلى الله عليه وسلم: الْمُـتَـشَـبِّـعُ بِمَـا لَـمْ يُـعْطَ، كَـلَابِـسِ ثَـوْبَى زُوْرٍ.
Ada seorang wanita (datang kepada Rasulullah), dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suami saya telah memberikan sesuatu kepada saya, padahal itu tidak pernah diberikan”.
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan”. Riwayat Muslim no. 2129.
Coba jujur saja, ketika berkunjung ke rumah saudara suami atau ketika mengikuti pertemuan yang disenggarakan oleh rekan kerja suaminya atau bertemu dengan boss suaminya. Bukankah ada kedustaan yang disembunyikan? Entah mulai dari penampilannya (entah dengan menggunakan perhiasan imitasi atau pakaian pinjaman atau yang lainnya).
Coba lihatlah perkataan syaikh Utsaimin rahimahullah tentang Al Mutasyabbi’. Kata beliau, “Al Mutasyabbi’ adalah orang yang merasa kenyang padahal dia tidak kenyang. Maknanya pada di atas adalah bahwa dia menampakkan telah mendapatkan suatu keutamaan, padahal sebenarnya itu tidak dia dapatkan. Dan maksud dari (memakai dua baju kedustaan) adalah bahwa dia memakai atribut kedustaan. Yaitu dia membohongi orang-orang dengan seolah-olah dia adalah orang yang ahli zuhud, ahli ilmu dan orang kaya. Agar orang-orang tertipu. Padahal sebenarnya tidak demikian”. Lihat Syarh Riyadhus Shaalihiin, 6/185-186.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
