Pendusta, pendengki, hasad dan segala penyakit hati lainnya; selama dunia masih berputar maka tetap saja ada. Namun begitu sebagai umat Islam keadaan seperti itu bukan dijadikan alasan surut mundur atau atau malah menjadi ekstrim dalam mensikapinya. Sebab justru dengan tetap adanya manusia-manusia model itulah Allah menjadikan sebagai ujian bagi insan beriman.
هَذَا مِن فَـضْلِ رَبِّـى لِـيَـبْـلُوَنِـى ءَأَشْكُـرْ أَمْ أَكَـفُـرُ.
“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba (menguji) aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)”. Qs. An Naml 40.
الَّـذِى خَلَـقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَـاةَ لِيَـبْلُوَكُـمْ أَيُّـكُـمْ أَحْسَنُ عَـمَلًا، وَهُـوَ الْعَزِيْـزُ الْغَـفُوْرُ.
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Qs. Al Mulk 2.

Jadi memang dengan adanya manusia-manusia model seperti ini sengaja Allah jadikan sebagai ‘alat’ untuk menguji manusia.
Oleh karenanya, sebagai kaum muslimin, umat yang senantiasa dianjurkan untuk berlaku adil, tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah memvonis orang yang hanya bersandarkan pada berita semata. Semuanya harus dilihat secara jernih dan teliti. Dan andaikan berita itu benar, maka tetap saja tidak selayaknya sesama muslim saling menceritakan dan menyebarkan aib saudaranya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihii wa salam telah memberikan predikat “pendusta” kepada orang yang menceritakan setiap berita yang dia dengar, “kafaa bil mar’i kaadziban”.
Berikut ini (setidaknya) ada beberapa langkah yang hendaknya dilakukan oleh setiap muslim tatkala mendengar berita yang menyangkut seseorang. Mudah-mudahan dengan menerapkannya, setiap muslim akan menjadi pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi keadilan dan inshaf, tidak mudah goyang oleh isu, rumor ataupun berita-berita yang belum jelas kebenarannya.
a. Lihatlah keadaan si penyampai berita.
Hal ini berlandaskan pada firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. Qs. Al Hujuraat 6.
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan orang beriman untuk bertatsabbut atau tabayyun yakni mengecek kebenaran yang didengarnya. Dan sebelumnya tentu harus dilihat terlebih dahulu keadaan si pembawa berita; apakah dia seorang yang jujur dan bertanggung jawab ataukah seorang yang fasik. Tabayyun terhadap berita yang disampaikan oleh seorang yang fasik adalah wajib.
Maka apabila mendengar berita tentang seseorang selayaknya dilihat terlebih dahulu orang yang menyampaikan berita tersebut. Karena bisa jadi dia sedang ada permusuhan, sengketa, hasad, dendam atau persaingan tidak sehat dengan orang yang dia tuduh. Dan boleh jadi juga, dia (penyampai berita) memang orang yang cacat pada sisi agama dan amanahnya. Sehingga beritanya layak untuk ditolak.
Imam As Sakhawi berkata, “Ibnu Abdil Bar berpendapat bahwa ahli ilmu tidak menerima jarh (berita negatif), kecuali dengan bukti yang jelas. Kalau sekiranya dalam kasus itu ada permusuhan maka selayaknya berita tersebut tidak diterima”.
Berdasarkan hukumnya, As Sa’di membagi sumber (media) berita kepada tiga klasifikasi; pertama, berita dari seorang yang jujur yang secara hukum harus diterima. Kedua, berita dari seorang pendusta yang harus ditolak. Ketiga, berita dari seorang yang fasik yang membutuhkan klarifikasi, cek dan ricek akan kebenarannya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
