Setiap penyakit pasti akan membawa dampak buruk bagi pasien, walaupun si pasien tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Entah karena unsur keuangan sehingga tidak mau mengecek kesehatannya, atau karena unsur malas ke dokter karena takut kalau divonis memiliki penyakit yang mematikan. Atau karena kesibukannya yang begitu padat sehingga takut jika nanti meluangkan waktunya hanya untuk berobat maka peluang yang baik ini akan hangus sia-sia, dan masih banyak lagi alasan yang membuat dirinya tidak mau melakukan cek up.
Walhasil ketika penyakitnya sudah menyebar dan tahu-tahu membuat tubuhnya limbung dan ,,,, dirinya tidak sadarkan diri atau entah bagaimana. Kemudian pihak rumah sakit memvonisnya bahwa dirinya (benar-benar) terkena penyakit mematikan yang sudah masuk pada stadium akhir.
Kalau sudah begini barulah sadar bahwa dirinya benar-benar ingin sembuh dan siap mengorbankan apa saja dan berapa saja biaya yang harus ditanggung dirinya siap (secara finansial) asal dirinya sembuh total dari penyakit yang menghinggapinya.
Di atas itu gambaran orang yang sebenarnya terkena penyakit secara fisik yang sebetulnya fisik sendiri telah memberikan sinyal (warning) bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.

Nah apalagi bila yang terjadi justru penyakit ruhani. Jelas sebenarnya juga sudah ada warning/gejala yang sebenarnya sudah dapat dirasakan oleh dirinya atau orang lain. Dan apabila sesegera mungkin diterapi maka akan memunculkan akibat-akibat buruk pada dirinya sendiri, di antaranya:
1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan.
Ketahuilah bahwa ujub bisa menjadikan seseorang menjadi takabur (sombong). Karena ujub merupakan salah satu penyebab takabur. Sehingga dari (rasa) ujub inilah timbul rasa takabur, lalu dari takabur timbullah bencana yang banyak. Hal ini berlaku dihadapan manusia. Jika dihadapan sang Khaliq, maka ujub terhadap berbagai amal ketaatan merupakan hasil dari anggapannya bahwa ketaatannya sudah hebat, bahwa dengan amalnya dia menjadi manusia pilihan Allah. Sementara dirinya lupa bahwa nikmat yang diterimanya merupakan taufik dari Allah Ta’ala, lalu dirinya menjadi lupa terhadap bencana-bencana yang merusak amalnya. Padahal semua orang tahu bahwa bencana amal ialah orang yang takut amalnya tidak diterima oleh Allah makanya orang tersebut tidak (berani) melakukan ujub.
2. Dijauhkan dari pertolongan Allah.
Dirinya akan lupa terhadap Allah Ta’ala dan mengandalkan sirinya sendiri sehingga Allah Ta’ala akan membiarkan dirinya dari berbagai macam kesulitan.
Maka benarlah Allah Ta’ala yang telah berfirman dalam hadits Qudsi:
عَنْ أَبِى هُـرَيْـرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: يَـقُوْلُ اللهُ تَـعَالَى: أَنَـا عِـنْدَ ظَنِّ عِـبْدِ بِـى، وَأَنَـا مَعَـهُ إِذَا ذَكَـرَنِى، فَـإِنْ ذَكَـرَنِـى فِى نَـفْسِـهِ، ذَكَـرْتُـهَ فِى نَـفْسِـي، وَإِنْ ذَكَـرَنِـي مَـلَأٍ ذَكَـرْتُـهُ فِـي مَـلَأٍ خَـيْرٍ مِنْـهُـمْ. متفق عليه.
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda; Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat)”. Diriwayatkan Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675.
Wallahu a’lau bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
