d. Mendiamkan dan menyembunyikan rasa hasad.
Bila mau jujur maka sebenarnya setiap manusia itu tetap memiliki rasa hasad, iri dan dengki. Hanya saja masing-masing dari manusia itu ada yang mampu mengendalikan hasad, iri dan dengki kepada orang lain dan ada yang tidak.
Lihat saja bagaimana akhir daripada Abdullah bin Ubay bin Salul dan para sahabat Anshar.
– Sahabat Anshar;
Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memutuskan untuk mengakhiri pengepungan benteng Thaif, beliau kembali ke Ji’ranah, tempat beliau menyimpan ghanimah (harta rampasan perang) di perang Hunain.
Singkat cerita, di Ji’ranah Rasulullah shalallahu ‘alaihi w asalam membagi-bagikan ghanimah kepada orang-orang Makkah yang baru saja masuk Islam sedangkan orang-orang Anshar tidak mendapatkan bagian. Padahal ghanimahnya saat itu banyak sekali.
Nah dari sini orang-orang Anshar agak kurang enak (semacam iri-lah) hingga terdengar suara yang tidak mengenakkan yang sampai ke telinga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengutus salah seorang sahabat untuk mengumpulkan sahabat Anshar.

Setelah berkumpul Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Wahai kaum Anshar! Pembicaraan apa ini yang sampai kepadaku dari kalian”.
Kaum Anshar terdiam (tidak mampu menjawab). Lalu beliau melanjutkan sabdanya, Wahai kaum Anshar! Apakah kalian tidak rela orang-orang itu pergi dengan membawa dunia sementara kalian pulang dengan membawa serta nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam ke rumah-rumah kalian?”.
Mereka menjawab, “Kami rela, wahai Rasulullah!”.
Pada riwayat lain disebutkan, begitu mendengar penjelasan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, hati seluruh kaum Anshar yang hadir tersentuh hingga membuat mereka menangis dan air matanya menetes membasahi jenggot mereka. Lalu mereka berkata, “Kami rela Rasulullah menjadi bagian dari kami”.
– Abdullah bin Ubay bin Salul;
Abdullah bin Ubay bin Salul, dia adalah tokoh dari kabilah Khazraj. Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam hijrah ke Madinah, diapun ikut masuk Islam. Tetapi ternyata dia kecewa. Sebab harapannya jika dia masuk Islam maka kepemimpinan tetap akan diserahkan kepadanya namun ternyata justru seluruh penduduk Madinah (baik dari kabilah Bani Khazraj, Bani Aus dan ketiga kabilah Yahudi –Bani Nadhir, Bani Quraidhah dan Bani Qainuqa’-) ditambah dengan dua kelompok dari kaum muslimin (Muahajirin dan Anshar).
Nah dari rasa kekecewaan inilah akhirnya justru dia menjadi tokoh munafik. Perilakunya selalu merugikan kaum muslimin terus menerus.
Dari dua contoh kasus di atas setidaknya dapat diambil pelajaran bahwa rasa iri, dengki dan hasad itu terkadang muncul karena ada sesuatu hal. Bila segera diredam dengan ketulusan hati maka seperti kaum Anshar, namun bila tidak maka akan seperti Abdullah bin Ubay bin Salul.
Wallahu a’lau bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
