Perbedaan antara Ghibthah dan hasad.
Ghibthah: adalah “Tamanni Mitslin Ni’mah Min Ghairi Hubbi Zawaalihaa ‘Anil Mabghuuth”. Yakni berangan-angan untuk menggapai nikmat yang serupa namun tidak sampai berkeinginan agar nikmat tersebut hilang dari Al Mabghuuth.
Jadi, Al Ghibthah masuk dalam pengertian hasad sebelumnya. Sebab hakekat keduanya adalah sama yaitu karaahah (benci) dan Bughdhun (marah). Sehingga hal ini menimbulkan keinginan untuk menjadi seperti orang itu (Al Mabghuuth) atau lebih darinya. Ghibthah inilah yang disebut hasad oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِى اثْـنَـيْـنِ رَجُـلٌ آتَـاهُ اللهُ مَالًا فَـسُـلِّطَ عَـلَى هَـلَكَـتِـهِ فِى الْحَـقِّ، وَرَجُـلٌ آتَـاهُ اللهُ الْحِكْـمَـةَ، فَـهُوَ يَـقْـضِى بِـهَـاوَيُـعَـلِّـمُـهَـا.
“Tidak ada (baca: diperkenankan) hasad –ghibtoh- kecuali pada dua hal: (pertama) seseorang yang diberi anugerah Allah berupa harta, lalu dia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), lalu dia menunaikan dan mengajarkannya”. Diriwayatkan Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816.

Sementara pada hadits lain ada sedikit perbedaan redaksinya:
وَعَنْ ابْنَ عُـمَرَ رضي الله عنهمَـا، عَنِ النَّـبِـيِّ صلى الله عليه و سلم، قَالَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِى اثَـنَـتَـيْنِ: رَجُلٌ آتَـاهُ اللهُ الْقُـرْآنَ، فَـهُوَ يَـقُـوْمُ بِهِ آنَـاءَ الـلَّيْـلِ وَ آنَـاءَ النَّـهَـارِ، وَرَجُلٌ آتَـاهُ اللهُ مَالًا، فَـهُوَ يُـنْـفِـقُـهُ آنَـاءَ الـلَّيْـلِ وَ النَّـهَـارِ.
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara: seseorang yang diberikan kepandaian Al Qur’an oleh Allah lalu dia membaca dan mengamalkannya pada malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia menginfakkannya pada malam dan siang hari”. Muttafaqun ‘alaihi. Terdapat pada Bukhari no. 5025, dan Muslim no. 815.
Perbedaan antara ‘Ain dan Hasad.
Setelah memperlajari ‘Ain dan hasad secara mendalam para ulama kemudian menyimpulkan bahwa hasad itulah yang disebut ‘Ain. Hanya saja ‘ain mampu menghembuskan pengaruh buruk yang lebih mencakup dan detail (Asymal). Dan Al Haasid (orang yang hasad) lebih bersifat umum dibandingkan dengan Al ‘Ain. Adapun Al ‘Ain adalah “Tilka an-nafsu asy syarirah allatii yatamallakusy Syarra jawaanibuhaa Fayanba’itsu minhaa al Khubaa-its minal ‘Ain”. Ini berbeda dengan hasad yang tidak terjadi dengan perantaraan ‘ain.
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet perm
