Sebenarnya salah satu fitrah dari manusia adalah tidak mau dibohongi/didustai. Dengan begitu berarti dirinya seharusnya tidak boleh berdusta/berbohong. Karena begitulah hukum alam yang berlaku; bila tidak mau dipukul ya jangan memukul, bila tidak mau diejek ya jangan mengejek, bila tidak mau dikucilkan yang jangan mengucilkan orang, begitu seterusnya.
Setiap orang yang dibohongi lalu dia tahu bahwa dirinya dibohongi, pastinya dia akan merasa sangat kecewa dan marah. Hanya saja kekecewaan dan kemarahannya dari masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang langsung menegur orang yang membohonginya, ada yang langsung marah –mungkin-, ada yang diam saja tetapi dia sudah menutup lembarannya bagi orang yang membohonginya, dan sebagainya.
Oleh karenanya sebenarnya perilaku dusta itu pasti akan tidak mengenakkan hati pelakunya. Sebab pada prinsipnya dia telah menyalahi fitrahnya. Tetapi sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bahwa pada prinsipnya hati manusia itu bersih, namun apabila manusia itu sendiri melakukan suatu kemaksiatan maka secara tidak langsung dia telah memberikan ititik noda hitam pada hatinya. Sehingga hatinya ada satu titik hitam yang menodai hatinya. Nah salah satunya perbuatan dusta ini.

Ibarat seperti anak-anak remaja yang hendak belajar merokok. Awalnya mereka merasa bahwa rasanya tidak enak, kalau sudah pendek batang rokoknya juga sudah mulai panas. Tetapi karena hatinya diliputi rasa gengsi; takut dikatakan tidak jantan –karena laki-laki seharus merokok-, ya akhirnya memaksakan diri untuk ‘menikmatinya’. Wal hasil, jika sudah kecanduan justru dia akan kesulitan untuk berhenti merokok.
Begitu halnya dengan dusta. Awalnya sebenarnya hatinya berontak ketika melakukan kedustaan. Tetapi karena dengan dustanya itu dia bisa ‘mendapatkan hasil’ yang signifikan –atau bahkan bisa terbebas dari suatu tuntutan-, maka tergambarlah satu titik pada hatinya. Lalu bila dilakukan secara terus menerus akhirnya malah kecanduan. Wal hasil, dia malah merasa bodoh bila harus itu dia sama sekali tidak berdusta kepada orang.
Ingatlah bahwa bahaya dusta itu akan menghantar pelakunya untuk terjatuh dalam lingkup kemaksiatan. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:
إِذَا كَـذَبَ لْعَـبْدُ فَـجَرَـ وَإِذَا فَـجَرَ كَـفَـرَـ وَ إِذَا كَـفَـرَ دَخَـلَ النَّـارَ.
“Apabila seseorang berdusta maka dia durhaka, apabila dia durhaka maka dia kafir, dan apabila dia kafir maka dia pasti (akan) masuk neraka”. Musnad Ahmad 2/176, sanadnya ditetapkan berderajat shahih oleh Ahmad Syakir 6641. Al Albani menyatakannya berderajat dha’if pada kita At Targhiir 1746.
Sebab dusta itu akan menempatkan perilaku seseorang kedurhakaan yang paling durhaka, yakni kemunafikan. Karena –sifat- munafik merupakan kedurhakaan yang paling durhaka, maka orang munafik tersebut akan berada di dasar terbawah dari neraka.
Ingatlah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaih wa salam bersabda, “Ada empat karakter yang apabila keempat-empatnya ada pad adiri seseorang maka dia adalah seorang munafik sejati. Sedangkan siapa saja yang memiliki salah satu dari keempat karakter itu maka dia memiliki perangai kemunafikan sampai dia meninggalkannya; apabila dipercayai dia berkhianat, apabila berbicara dia berdusta, apabila dia berjanji dia mengingkari, dan apabila berdebat dia bertindak durhaka”. Shahih Bukhari 34, Shahih Muslim 58.
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
