Dusta, Bukan Karakter Fitrah Manusia

Sungguh Allah telah menciptakan fitrah setiap mukmin itu perangai yang jujur, sellau menepati janji dan pantang berkhainat. Maka apabila ada seorang mukmin yang ternyata melakukan perbuatan dusta dan khianat, maka pada prinsipnya dia telah keluar dari rel fitrah sebagai seorang mukmin. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

يُـتْـبِعُ الْمُؤْمِنُ عَـلَى الْخَلَالِ كُـلِّـهَـا إِلَّا الْخِـيَانَـةِ وَالْكَـذِبِ.

“Seorang mukmin itu ditetapkan fitrahnya di atas perangai seluruhnya yang ada kecuali (sifat) khianat dan dusta”.

يُـتْـبِعُ الْمُؤْمِنُ عَـلَى كُـلِّ خُـلَّـةٍ غَـيْرَ الْخِـيَـانَـةِ وَالْكَـذِبِ.

“Seorang mukmin itu ditetapkan fitrahnya di atas segala perangainya yang ada namun bukan (sifat) khianat dan dusta”.

Bahkan dalam sejarah Islam pun Allah telah memberinya gelar pada seorang mukmin pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dengan gelaran Ash Shidiq. Siapa dia?

Dusta, Bukan Karakter Fitrah Manusia

Dia adalah Abu Bakar. 

Ya, beliau bukan sekedar jujur dalam arti jujur lugu melainkan jujur yang sebenar-benarnya. Yakni jujur dalam berkata, jujur dalam bertindak, jujur dalam menerima risalah Islam (maksudnya membenarkan apa saja yang telah diturunkan dari Allah Ta’ala kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam melalui malaikat Jibril ‘alaihi salam. 

Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu pernah berkata mengenai jujur ini, kata beliau, “Dusta itu menjauhkan diri dari iman”. Terdapat dalam kitab FATHUL BAARI, X: 54. Dalam kitab tersebut Al Hafidh Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi pada SYU’ABUL IMAN dengan sanad yang shahih, dan dia juga mengeluarkan hadits ini secara marfu’ seraya berkomentar, “Hadits ini shahih tetapi mauquf”.

Sementara itu Ibnul Qayyim dalam kitab ZAADUL MA’AAD, III: 516, berkata, “Dusta tidak mungkin bersatu dengan iman. Jika tidak, maka salah satu dari keduanya akan menolak yang satunya, dan menempati tempatnya”.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah orang mukmin itu bisa menjadi seorang pengecut?”.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Iya”.

Beliau ditanya lagi, “Apakah mukmin itu bisa menjadi orang yang kikir?”.

Rasulullah menjawab, “Iya”.

Rasulullah kembali ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?”.

Rasulullah menjawab, “Tidak”. Hadits ini diriwayatkan imam Malik (pada kitab MUWATHTHA’), II: 90. Al Albani pada AT TARGHIIB 1752 menyatakan bahwa hadits ini mursal dan dha’if.

Oleh karenanya barangsiapa yang masih menjaga kejujuran berarti dia masih menjaga fitrah keislamannya.

Wallahu a’lamu bish shawaab

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button