Jujur adalah perkataan yang benar, yakni ucapan yang sesuai dengan hakekat dan kenyataan, serta sesuai dengan keyakinan orang yang mengatakannya.
Oleh karenanya, jujur yang benar itu pastinya akan keluar dari hati yang bersih dan paling dalam kemudian naik ke otaknya, lalu menjalar ke seluruh tubuh. Dari sana kemudian akan ‘terpancar’ dari lisan sampai mata (entah berupa lirikan mata) dan amal perbuatan lainnya.
Dari sanalah kemudian akan terpancar yang namanya kejujuran.
Sementara itu, dusta atau juga sering disebut bohong, adalah perkataan yang tidak benar atau tidak sama antara ucapan dan kenyataan ataupun perbuatan.
Hal itu karena dusta itu keluar dari hati yang kusam, kusut, tanpa iman dan penuh kekacauan. Kemudian naik ke atas (otak) lalu diterjemahkan oleh lisan dan keluarlah sebuah ucapan ataupun propaganda yang sifatnya sangat buruk.

Dari sanalah akan terpancar yang namanya dusta dan kebohongan yang dibalut dengan sejuta pemanis sehingga indah, padahal sebenarnya sebuah kebusukan.
Walau sang pendusta itu sendiri terkadang dengan beraninya bersumpah atas nama Allah. Tetapi tetap saja suatu saat nanti Allah justru yang akan membukakan kedok kedustaannya. Sebagaimana Abdullah bin Ubay bin Salul yang dengan beraninya bersumpah atas Allah dihadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Yang tidak lama kemudian Allah langsung bukakan kedoknya. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al Qur’an:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Qs. Al Munafiqun 1-2.
Oleh karenanya, bila ingin berhenti dari perbuatan dusta maka hendaknya memperbaiki hati terlebih dahulu. Sebagaimana dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika masih diasuh oleh Halimah As Sa’diyah, dada beliau dibelah oleh beberapa malaikat. Lalu para malaikat itu mengambil hati beliau dan dibersihkan. Sehingga hati beliau benar-benar bersih dan tidak menyisakan rasa dendam, ingin dipuji, culas dan sebagainya.
Karena begitu bersihnya hati beliau maka sangat tidak mengherankan bila kemudian semua yang diucapkannya adalah wahyu. Sama sekali tidak ada hawa nafsu yang keluar dari lisannya.
وَمَا يَـنْطَـقُ عَـنِ الْهَـوَى. إِنْ هُـوَ إِلَّا وَحْـيٌ يُـوْحَى.
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Qs. An Najm 3-4.
وَإِنَّـكَ لَـعَـلَى خُـلُـقٍ عَـظِيْـمٍ.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Qs. Al Qalam 4.
Pada dua surat di atas menunjukkan bahwa ketika hati bersih maka yang keluar dari lisannya pun pasti yang baik-baik, dan amalan-amalannya pun juga penuh kebaikan. Sama sekali tidak memiliki tendensi nafsu.
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
