Mungkin ada yang sering mendengar ucapan bahwa berdusta saja susah untuk menggapai sukses, apalagi jujur?
Ya, kejujuran hari memang sangat mahal sekali. Dia ibarat mutiara yang hilang. Padahal kejujuran adalah identitas sebagai seorang muslim, sebagaimana hadits yang sudah diterangkan di atas.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Di antara kedudukan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, adalah kedudukan jujur. Ia merupakan kedudukan suatu kaum yang agung. Dari kedudukan ini akan melahirkan semua kedudukan para penempuh jalan Allah. Ia adalah jalan yang paling baik, siapa saja yang tidak berjalan di atasnya maka ia akan menjadi orang-orang yang tersesat dan binasa. Sifat inilah yang akan membedakan antara orang munafik dan orang beriman, penghuni surga dan penghuni neraka”.
Sepintas sikap jujur itu menjadi delima bagi orang lain yang memandangnya. Sebab orang-orang yang culas pasti sangat senang untuk membully-nya, atau mengkadalinya.

Tetapi ingatlah bahwa justru sebenarnya kejujuran adalah senjata bagi pelakunya. Ya, dai akan membabat para pendusta dengan kejujurannya. Lihatlah Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu. Karena kejujurannya dalam beriman kepada Allah dan rasul-Nya, akhirnya beliau mendapatkan ‘mandat’ untuk menemani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sungguh suatu kehormatan yang luar biasa bukan?
Masih ingat bukan bagaimana turunnya surat At Taubah 118?
Ya, sebelum ayat ini turun, telah terjadi pergolakan batin yang luar biasa pada diri tiga sabahat; Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah radliyallahu ‘anhum. Hingga Allah sendiri memuji sikap kejujuran (kejantanan) mereka lalu mengabadikannya dalam surat At Taubah 118 tersebut.
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Qs. At Taubah 118.
Dalam riwayat disebutkan bahwa seusai perang Tabuk, orang-orang tidak ikut berperang itu menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di masjid lalu menyampaikan alasannya karena ketidak ikutsertaannya dalam perang Tabuk.
Nah saat itu sebenarnya dalam hati Ka’ab bin Malik radliyallahu ‘anhu sedang berkecamuk antara menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dengan memberikan alasan-alasan bohong sehingga akan terbebas dari hukuman atau justru berkata jujur tetapi pasti akan menerima hukuman dari Rasulullah? Padahal Ka’ab sendiri menyadari bahwa dirinya adalah orang yang ahli dalam berdebat.
Tetapi ternyata Ka’ab justru memilih berkata jujur walau beliau sadar bahwa dengan kejujurannya pasti akan mendapatkan hukuman.
Dan, benar! Begitu Ka’ab berkata jujur, Ka’ab pun langsung mendapatkan hukuman dari Rasulullah dengan sikap beliau yang langsung memalingkan mukanya.
Berikutnya; Ka’ab bin Malik dan dua sahabat lainnya dihukum dengan cara diisolasi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya selama kurang lebih enam puluh hari. Hingga mereka tiada hari tanpa tangisan penyesalan.
Dan pada hari yang enam puluh itulah turun ayat ke-118 dari surat At Taubah tersebut yang menyebutkan bahwa dosa mereka telah diampuni. Subhaanallah,,,,! Suatu kenikmatan yang luar biasa bukan?
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
