Perjalanan Menjemput Ajal Bag.63
Ajal, sebuah keniscayaan. –lanjutan-
Di atas sudah disinggung tentang kematian itu adalah suatu kepastian. Ya, sehebat apapun dia, atau heroik apapun dia; pasti dia akan mengalami kematian.
Jangankan manusia biasa, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam saja, yang notabenenya adalah kekasih Allah saja meninggal. Apalagi manusia biasa. Termasuk para malaikat yang selalu patuh terhadap semua perintah Allah juga kelak akan mati.
Sementara itu untuk manusia yang hidupnya pernah mengalami masa baligh maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah menggambarkan tentang kehidupan. Sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu.
Abdullah bin Mas’ud radliyallahu a’nhu berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membuat garis segi empat. Lalu membuat (lagi) sebuah garis panjang di tengah-tengahnya, hingga keluar dari garis segi empat tersebut. Kemudian membuat garis-garis kecil yang ditarik dari samping garis yang ada di tengah segi empat tersebut. Lalu beliau bersabda, “Ini adalah gambaran manusia, dan ini (yang segi empat) adalah ajalnya yang telah ditetapkan, dan garis yang tengah ini adalah angan-angannya, dan garis-garis kecil (yang banyak ini) adalah gangguan-gangguan yang selalu menghadang manusia. Maka bila dia selamat dari yang pertama, mungkin akan terkena yang kedua; jika dia terhindar dari yang satu terkena yang lain”. Diriwayatkan Bukhari.

Dahulu, ada seorang shalih senantiasa menyeru dari atas tembok Madinah, “Kepindahan, kepindahan”.
Ketika orang shalih tersebut meninggal dunia, tiada lagi terdengar suaranya. Gubernur Madinah saat itu menanyakan kepergian orang shalih tersebut. Lalu dikabarkan kepadanya, bahwa orang tersebut telah meninggal dunia. Sang gubernur kemudian bersenandung:
Dia senantiasa menyebut kepindahan dan mengingatnya
Hingga dia menderumkan untanya di depan pintunya
Lalu diapun terjaga (dari tidurnya) kemudian dia pun berjalan dengan cepat
Dia senantiasa memiliki rasa takut (kepada Allah) dan tidak dilalaikan oleh angan-angannya.
Dahulu juga sering para ulama dan pemimpin Islam saling mengingatkan tentang kematian. Di antaranya;
At Tamimi berkata, “Dua hal yang telah memupus kelezatan duniaku; dzikrul maut (mengingat kematian) dan membayangkan kedudukanku di sisi Allah Ta’ala”.
Sementara khalifah Umar bin Abdul Aziz sering mengumpulkan para ulama. Maka mereka saling mengingatkan tentang kematian, hari Kiamat dan akhirat. Mereka semua menangis, hingga seolah-olah ada orang yang sedang meninggal di antara mereka.
Ad Daqaq berkata, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, maka dia akan dimuliakan dengan tiga hal; disegerakan taubatnya, qana’ah (sifat merasa cukup dengan pemberian yang ada padanya) dalam hatinya, semangat dalam beribadah. Dan barangsiapa yang melupakan kematian, maka dia akan ditimpakan tiga hal; ditangguhkan taubatnya, tidak ridla (tidak merasa cukup) dengan pemberian yang ada dan bermalas-malasan dalam beribadah”.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
